Mawas Diri





Ceramah Ki Ageng Suryomentaram ini disampaikan beliau dalam pertemuan Junggring Salaka Agung ke VIII di Surabaya, pada tanggal 30 Agustus 1954.

Orang sering merasa kesulitan karena tidak mengerti diri sendiri. Kesulitan tersebut dapat dipecahkan bila orang mengerti diri sendiri. Maka mengetahui diri sendiri dapat memecahkan berbagai macam kesulitan. Pengertian diri sendiri ini disebut "pangawikan pribadi" atau "pengetahuan diri sendiri." Oleh karena orang itu terdiri atas jiwa dan raga, sedangkan yang dibicarakan di sini hanya mengenai jiwa saja. Jadi pengetahuan diri sendiri atau pangawikan pribadi di sini dimaksudkan pengetahuan hal jiwa. Meskipun jiwa itu tidak dapat ditangkap oleh panca indera, tetapi orang merasa bahwa jiwa itu ada, maka jiwa adalah rasa. Jadi pangawikan pribadi berarti pengertian terhadap rasanya sendiri. Pribadi yang dimaksudkan di sini bukanlah pribadi yang muluk-muluk tetapi pribadi yang merasa apa-apa, yang memikir apa-apa dan yang ingin apa-apa.

Pribadi diri kita sendiri ini terjadi dari rasa-rasa banyak sekali dan rasa-rasa tersebut ada yang dangkal, ada yang dalam, dan ada yang dalam sekali. Tentu saja mengetahui diri sendiri, rasa-rasa sendiri ini, lebih dahulu mengetahui rasa-rasa sendiri yang dangkal, sebab rasa-rasa yang dangkal lebih mudah diketahui dari pada rasa-rasa yang dalam. Jika orang sudah biasa mengetahui rasa sendiri yang dangkal dapatlah orang mulai mengetahui rasa sendiri yang dalam. Meskipun rasa sendiri yang dangkal itu mudah diketahui tetapi orang sering tidak mengetahui. Maka banyak kesulitan-kesulitan yang dapat dipecahkan oleh karena dapat mengetahui rasa sendiri yang dangkal. Marilah saudara-saudara saya ajak bersama-sama mengetahui diri sendiri yang dangkal. Diri kita sendiri ini dapat mencatat atau memotret. Orang melihat sesuatu itu berarti memotret sesuatu tersebut. Misalnya orang melihat meja, artinya orang tersebut memotret meja dan di dalam rasa orang tersebut lalu ada potret meja atau gambar meja. Potret meja tersebut bukanlah meja. Meja dan potret meja tersebut merupakan dua benda yang terpisah, tidak ada sangkut pautnya. Demikian juga orang mendengar sesuatu, misalnya mendengar lagu, orang itu memotret lagu. Dalam rasa orang itu lantas ada potret lagu dan potret lagu tersebut bukanlah lagu.

Demikian juga orang dapat memotret dengan indera yang lain yaitu pembau, peraba dan perasa. Kecuali memotret barang-barang yang dapat ditangkap oleh panca indera, orang dapat pula memotret rasa. Jika orang merasa sesuatu misalnya merasa haus orang tersebut memotret rasa haus, lalu di dalam rasa ada potret rasa haus. Potret rasa haus tersebut bukanlah rasa haus. Mengetahui diri sendiri dapat memotret itu adalah mengetahui diri sendiri yang paling dangkal. Selanjutnya dapat mengetahui diri sendiri yang lebih dalam, Maka mengetahui diri sendiri itu berurutan mulai dari yang dangkal sampai pada yang dalam. Kecuali dapat memotret orang dapat pula menggagas atau mengarang. Misalnya ia mengarang kuda berkepala orang lantas ada gambar kuda berkepala orang dalam rasa orang tersebut. Gambar kuda berkepala orang tersebut bukanlah potret tetapi karangan sebab barangnya yang dipotret tidak ada. Gambar kuda berkepala orang tersebut bahannya diambil dari potret kuda dan orang. Potret kuda dihilangkan kepalanya dan diganti dengan kepala orang. Kecuali dapat menggagas, orang dapat pula mencipta, misalnya mencipta payung. Sebelum orang mencipta payung orang berpikir lebih dahulu bagaimana caranya melindungi badan agar supaya tidak basah pada waktu kehujanan. Bila pemikiran telah selesai terciptalah barang yang disebut payung. Maka barang-barang bikinan orang adalah ciptaan orang. Ciptaan dapat diwujudkan menjadi barang sedangkan gambar tidak dapat diwujudkan menjadi barang. Jadi mencipta dan menggagas itu berlainan. Kecuali menggagas barang-barang, orang dapat pula menggagas rasa, misalnya menggagas rasa susah selamanya. Bila gagasan rasa itu dikira potret rasa maka akan timbul kesulitan. Banyak sekali gagasan-gagasan rasa yang dikira potret rasa. Maka orang banyak mendapatkan kesulitan sebab gagasan dikiranya potret. Bila gagasan tersebut diketahui, kesulitan karena hal tersebut akan hilang. Orang miskin merasa dirinya celaka lalu menggagas bila ia menjadi orang kaya maka ia akan merasa bahagia. Bahagia tersebut bila diteliti berarti senang terus menerus atau selamanya. Jadi bahagia tersebut adalah gagasan bukan potret. Orang kaya itu memang ada dan dapat dipotret. Pengalaman (lelakon) orang kaya itu ada dan dapat dipotret. Tetapi kebahagiaan orang kaya itu tidak ada, maka tidak dapat dipotret. Jadi kebahagiaan seperti di atas adalah gagasan.

Misalnya orang merasa celaka (malang nasibnya) dan segala usaha untuk mencari kebahagiaan sudah tidak dapat, orang lantas menggagas, nanti sesudah mati akan mendapat kebahagiaan. Kebahagiaan nanti sesudah mati itu adalah gagasan. Bila gagasan tersebut diketahui maka gagasan tersebut akan lenyap sehingga tidak lagi menimbulkan kesulitan. Biasanya orang menggagas kebahagiaan sesudah mati itu demikian: Orang mati itu yang rusak raganya sedang jiwanya atau sukmanya tidak rusak. Jadi gagasan akan mendapat kebahagiaan sesudah mati itu berarti yang bahagia adalah sukmanya. Salah satu gagasan mendapat kebahagiaan sesudah mati itu demikian: Sukma tersebut menjelma menjadi orang lagi yaitu menjadi orang kaya, mulia dan berkuasa. Sedang gagasan bahagia yang lain demikian: Sukma tersebut bersatu dengan Hyang Sukma. Jadi gagasan itu berbeda-beda sebab orang menggagas itu bebas dan dapat sekehendaknya sendiri. Oleh karena gagasan itu berbeda-beda maka orang menjadi bertengkar. Bila orang yang mempunyai gagasan yang sama itu menggerombol, maka gerombolan tersebut akan berperang dengan gerombolan lain yang mempunyai gagasan yang berlainan. Jadi gagasan itu menimbulkan perpecahan dan peperangan. Meskipun yang menimbulkan peperangan itu hanya gagasan, tetapi tembak menembaknya sungguh-sungguh bukan gagasan. Demikianlah gagasan itu bila tidak diketahui akan menimbulkan kesulitan. Misalnya orang merasa celaka (malang nasibnya) dan segala usahanya untuk mendapat kebahagiaan sudah tidak dapat, lantas menggagas demikian: Kalau negara diatur "begini" maka orang akan bahagia. Ada orang lain lagi memikir bahagia demikian: Kalau negara diatur "begitu" maka orang akan bahagia, Padahal "begini" dan "begitu" tersebut berbeda maka orang akan bertengkar. Jika orang yang mengatakan "begini" atau "begitu" tersebut menggerombol maka akan terjadilah peperangan. Peperangan tersebut terjadi oleh karena undang-undang yang ditempeli gagasan bahagia. Demikianlah gagasan itu bila tidak diketahui dapat menimbulkan perang. Ada lagi gagasan menimbulkan kesulitan. Yaitu anggapan bahwa teh enak, kopi enak dan limun enak. Minuman terasa enak itu bagi orang yang merasa haus, sedangkan yang diminum itu teh, kopi atau limun bukanlah soalnya. Jadi teh enak, kopi enak dan limun enak adalah gagasan, bukan potret. Jika gagasan itu dianggapnya potret orang akan berebutan teh, kopi dan limun. Demikianlah gagasan itu menimbulkan pertikaian.

Ada lagi gagasan yang menyebabkan timbulnya pertengkaran yaitu: baju-sutera-baik dan baju-belaco-jelek. Potret rasa yang sebenarnya demikian: Orang merasa dingin kemudian memakai baju sehingga merasa enak dan baik. Apakah bajunya dari bahan sutera atau belaco bukanlah menjadi soal. Gagasan sutera baik sedangkan belaco jelek tersebut menyebabkan orang berebutan sutera sehingga menimbulkan peperangan. Demikianlah gagasan dapat menimbulkan peperangan. Ada lagi gagasan yang menimbulkan pertengkaran, yaitu gagasan orang tampan dan orang cantik yang dihubungkan dengan perkawinan. Potret keindahan seperti hidung mancung atau pesek dan kulit kuning atau sawo matang itu memang ada tetapi keindahan tersebut tidak ada hubungannya dengan perkawinan. Orang cantik dan tampan dalam perkawinan yang berasal dari rasa hidup untuk melangsungkan jenis itu berasal dari rasa butuh. Jika sedang butuh, orang akan kelihatan cantik atau tampan dan apabila orang sedang tidak butuh, tidak kelihatan cantik atau tampan. Apabila gagasan orang cantik atau tampan tersebut diketahui, orang tidak berebutan wanita cantik atau pria tampan dan tidak lagi bersaingan merasa lebih cantik atau lebih tampan. Demikian gagasan menimbulkan pertikaian dan peperangan. Jadi diri sendiri dapat memotret dan menggagas. Banyak persoalan dapat dipecahkan dengan cara membedakan potret dan gagasan. Apabila orang sudah jelas dengan gagasannya orang dapat melanjutkan meneliti diri sendiri yang lebih dalam yaitu "si tukang menggagas". Mengapa diri sendiri selalu menggagas? Diri sendiri selalu menggagas karena diri sendiri merasa celaka.

TUKANG MENGGAGAS
Orang miskin merasa ceiaka lalu menggagas kebahagiaan orang kaya, Orang yang rendah derajatnya menggagas tinggi derajatnya, orang yang tidak berkuasa menggagas berkuasa, jelek menggagas baik, curang menggagas jujur, pemarah menggagas sabar, pemalas menggagas rajin dan sebagainya. Jadi yang menggagas itu "si-merasa-celaka". Gagasan itu cita-cita meskipun yang di cita-citakan itu bermacam-macam, tetapi pada pokoknya mencari kebahagiaan. Jadi si-merasa-celaka mencari kebahagiaan. Si-merasa-celaka itu menelorkan bermacam-macam rasa yang saling berlawanan. Bahagia dan celaka, baik dan buruk, ingin dan menahan keinginan, sabar dan pemarah. Rasa-rasa yang berlawanan tersebut menimbulkan pertentangan dalam batin sehingga menyebabkan orang merasa tidak tenteram. Dalam pertentangan rasa yang berlawanan tersebut oreng sering membela salah satu. Bila yang dibela kalah, orang merasa menyesal. Misalnya bila orang membela si jujur dalam pertengkarannya dengan si curang. Apabila si curang yang menang sehingga perbuatan curang terlaksana, orang merasa menyesal. Demikian pula jika membela si jujur sehingga perbuatan jujur terlaksana orangpun merasa menyesal. Pada waktu orang membela salah satu rasa berlawanan tersebut orang menyatukan dirinya dengan salah satu rasa. Pada waktu orang menyatukan dirinya dengan rasa curang, orang merasa "aku si curang", dan pada waktu orang menyatukan dirinya dengan rasa jujur, orang merasa "aku si jujur". Oleh karena pertentangan rasa berlawanan tersebut, orang sering menjadi bingung sehingga punya pendapat bahwa pertentangan rasa berlawanan tersebut merupakan ujian hidup. Jika lulus, orang akan mendapat karunia.

Demikian jika orang tunduk kepada rasa berlawanan. Apabila orang tidak menyatukan dirinya dengan salah satu, orang akan dapat meneliti rasa berlawanan tersebut sampai kepada sumbernya yaitu si-merasa-celaka. Si merasa celaka itulah si tukang menggagas bahagia. Pada waktu orang akan meneliti rasa celakanya sendiri, orang akan bertemu dengan rasa benci terhadap rasa celakanya sendiri. Bila benci kepada rasa celakanya sendiri, orang akan menutupi rasa celakanya sendiri tersebut dengan mengidam-idamkan kebahagiaan. Bila usaha untuk menutupi tersebut diketahui, rasa benci akan lenyap sehingga tidak akan menutupi lagi. Bila rasa benci sudah lenyap orang akan bertemu dengan rasa senang terhadap celakanya sendiri, yang menutupi untuk dapat melihat rasa celakanya sendiri dan membela rasa senangnya itu. Dalam hatinya berkata: "Jika orang tidak merasa celaka itu tidak ada kemajuannya, maka orang itu harus berprihatin." Jika rasa senang terhadap celakanya sendiri yang menutupi itu diketahui, rasa senang tersebut lenyap sehingga orang dapat melanjutkan meneliti rasa celakanya sendiri. Kemudian orang akan bertemu dengan rasanya sendiri yang akan berusaha mengubah rasa celakanya sendiri. Selama ada usaha untuk mengubah, orang tidak akan mengetahui rasa celakanya sendiri yaitu si-tukang-menggagas. Bila diketahui bahwa usaha mengubah rasa celakanya sendiri itu menutupi, usaha itu akan lenyap sehingga orang akan jelas melihat rasa celakanya sendiri yaitu "Aku Kramadangsa celaka". Kramadangsa itu rasa namanya sendiri. Kalau namanya Suta, orang merasa aku si Suta dan jika namanya Naya, orang merasa aku si Naya. Apabila orang sudah merasa "Aku Kramadangsa celaka," maka dapatlah orang meneliti rasa eelakanya sendiri. Kemudian orang dapat menelusuri dirinya sendiri mencari rasa celakanya. Apakah melarat itu celaka? Dan bagaimanakah celakanya orang melarat? Apakah orang yang berpangkat rendah itu celaka? Apakah merasa curang itu celaka? Apakah merasa pemarah itu celaka?

Dengan diteliti cara demikian rasa celakanya sendiri tidaklah ketemu. Bila diteliti lebih mendalam lagi, akan diketemukan bahwa rasa celaka tersebut hanyalah rasa yang tidak mau dalam keadaan lahir atau batin yang sewajarnya, sekarang, di sini. Misalnya diri sendiri sekarang di sini melarat, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Sekarang diri sendiri pemarah, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Sekarang diri sendiri curang, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Jadi celaka itu hanyalah: "Sekarang di sini begini, aku tidak mau." Jadi bahagia itu hanyalah: "Sekarang di sini begini, aku mau." Jika sekarang di sini melarat atau kaya, aku mau, bahagialah orang itu. Jika sekarang di sini merasa curang atau jujur, aku mau, bahagialah orang itu. Jadi bahagia dan celaka itu tergantung pada diri sendiri. Di sini akan menimbulkan kesulitan yang berupa pertanyaan: "Jika demikian orang tidak mau berusaha." Kesulitan tersebut timbul hanyalah karena kurang telitinya orang menelusuri diri sendiri. Untuk jelasnya demikian. Kesulitan tersebut timbul dari gagasan, yang menganggap bahwa orang dapat lepas dari berusaha. Jika gagasan tersebut diketahui orang dapat melihat bah*a orang tidak mungkin lepas dari berusaha. Maka lenyaplah kesulitan tersebut. Jika orang mengerti bahwa bahagia atau celaka itu hanyalah tergantung pada diri sendiri, orang akan dapat meneliti gagasan-gagasan celaka yang masih hidup dalam diri sendiri dan dapat mengganti gagasan tersebut menjadi potret. Misalnya gagasan demikian: "Isteriku ini memang cerewet." Gagasan tersebut dapat diganti potret demikian: "Isteriku ini memang setia kepada suami, meskipun aku sudah diberhentikan dari jabatanku, ia tidak minta cerai, tapi hanya cukup sering mengomeliku saja." Jika gagasan sudah diganti potret, orang merasa enak sebab gagasan itu rasanya tidak enak sedangkan potret rasanya enak. Bahagia dan celaka itu hanyalah soal mau atau tidak mau. Agar lebih jelas perlu diberi contoh. Misalnya ada dua orang berjalan bersama-sama dalam keadaan kehujanan. Yang satu mau, maka rasanya bahagia sedangkan yang lain tidak mau, maka rasanya celaka. Jadi meskipun dua orang tersebut dalam keadaan yang sama, tetapi yang satu menanggapi dengan mau dan yang lain tidak mau. Maka bahagia dan celaka itu hanyalah persoalan mau tidak mau. Rasa mau sekarang di sini itu adalah rasa abadi. Di sini ada kesulitan yaitu tentang rasa abadi dan pengertian abadi. Jika kesulitan ini belum terpecahkan orang tidak dapat merasakan rasa abadi. Pengertian abadi itu ialah; dahulu ada, sekarang ada dan nanti pun tetap ada. Dahulu begitu, sekarang begitu dan nanti pun tetap begitu. Waktu dapat dibagi menjadi dua macam yaitu waktu luar dan waktu dalam (waktu jiwa). Waktu luar itu wujudnya seperti satu menit, dua menit, setahun, dua tahun dan sebagainya. Waktu jiwa itu wujudnya; tadi, kemarin, besok, dahulu dan nanti. Kramadangsa hidup dalam waktu jiwa yaitu dahulu dan nanti. Maka Kramadangsa tidak berani melihat diri sendiri sekarang di sini begini. Kramadangsa tua itu biasanya sering hidup dalam waktu dahulu, rasanya demikian. "Dahulu waktu aku masih muda dapat begini-begini." Maka bila ditanya oleh cucunya: "Sekarang bagaimana mbah?" Jawabnya mencari-cari alasan begini: "Kalau sekarang aku sudah bobrok dan takut kedinginan." Demikianlah Kramadangsa tua hidup dalam waktu dahulu. Kramadangsa muda itu biasanya hidup dalam waktu nanti, rasanya demikian: "Aku nanti akan begini begitu dan akan hebat." Maka bila ditanya oleh neneknya, jawabnya mencari-cari alasan begini: "Kalau sekarang jamannya memang tidak baik." Demikianlah Kramadangsa muda hidup dalam waktu nanti. Rasa abadi itu rasa sekarang-disini-begini, tidak bercampur dengan rasa kemarin, besok, dahulu dan nanti. Misalnya orang sedang berjalan di jalan besar dan akan ketabrak mobil, kemudian melompat menghindari. Orang tersebut hanyalah merasa "Sekarang di sini aku melompat," tidak dicampuri rasa kemarin atau besok. Orang tersebut tidak sengaja merasa abadi, hanyalah terpaksa oleh keadaan, yang harus diselesaikan tanpa berpikir panjang.

Bila rasa abadi tersebut diteliti maka akan diketemukan perhatian terpusat hanya terhadap satu hal yaitu melompat. Perhatian terpusat itu adalah perhatian bebas, maka rasa abadi adalah perhatian bebas terhadap salah satu hal tidak tercampur dengan perhatian lain. Bila mengerti bahwa merasa abadi itu dari rasa bebas, dapatlah orang dengan sengaja merasa abadi. Tiap memusatkan perhatian terhadap sesuatu, tentu merasa abadi meskipun yang diperhatikan tersebut barang yang dapat dilihat ataupun dirasa. Rasa abadi dapat menghilangkan kesulitan yang berwujud menyesal dan khawatir. Bila rasa menyesal diperhatikan sepenuhnya dan diteliti, tanpa senang dan benci, tanpa berusaha untuk mengubah, maka dapatlah orang merasakan rasanya sehingga terlihat kejadiannya dan terlihat pula sebabnya. Sesal adalah gagasan luka dalam hati, bila diperhatikan sepenuhnya sampai selesai, sesal tersebut lenyap dan luka dalam hati akan sembuh. Demikian pula rasa khawatir bila diperhatikan sepenuhnya dan diteliti, tanpa senang dan benci, tanpa berusaha untuk merubah, lenyaplah rasa khawatir tersebut. Jadi rasa abadi dapat melenyapkan rasa sesal dan khawatir. Kebalikan dari perhatian terpusat adalah perhatian terpencar. Contoh perhatian terpencar misalnya, ketika sedang bepergian yang diperhatikan rumahnya dan setelah di rumah yang diperhatikan tempat lain. Perhatian terpencar itu menyebabkan orang tidak dapat selesai memikir salah satu persoalan. Yang menyebabkan perhatian tidak terpusat atau tidak bebas adalah kesulitan yang belum dapat dipecahkan, meskipun orang itu merasa atau tidak merasa. Kesulitan yang belum dipecahkan tersebut sering muncul untuk minta diperhatikan. Maka orang yang mempunyai banyak kesulitan yang tidak terpecahkan, perhatiannya selalu ditarik ke sana ke mari. Kesulitan yang tidak terpecahkan itu adalah suatu penyakit jiwa. Bila penyakit tersebut berat, menyebabkan orang tidak dapat menerima pembicaraan orang lain.

Jadi penyakit jiwa tersebut, menyebabkan orang merasa sepi. Bila kesulitan diperhatikan dengan sepenuhnya dan diteliti sampai selesai, orang lantas merasa bebas perhatiannya, artinya orang dapat memilih apa yang akan diperhatikan dengan bebas. Keadaan rasa bebas memilih tersebut sehingga datangnya kesulitan baru. Jadi di antara selesainya kesulitan dan datangnya kesulitan ada waktu yang kosong. Dalam waktu tersebut orang dapat melihat hal yang sesungguhnya atau keadaan sejati. Misalnya melihat burung terbang, orang merasakan keindahannya, melihat rumput yang hijau merasa indah, melihat gunung yang besar merasa agung dan sebagainya. Kebalikannya, bila ada kesulitan yang belum selesai orang tidak dapat melihat hal yang sesungguhnya. Misalnya melihat burung terbang merasa iri, melihat gua ingin digunakan untuk bersembunyi, bertapa dan sebagainya. Jadi waktu kosong antara dua kesulitan merupakan pengalaman perhatian bebas. Demikianlah "pangawikan pribadi" atau "pengetahuan diri sendiri" dapat digunakan untuk memecahkan kesulitan. Demikian pula orang dapat mengetahui diri sendiri mulai yang paling dangkal sampai kepada yang dalam.


UNSUR-UNSUR KRAMADANGSA
Bila Kramadangsa mati, orang akan mengetahui unsur-unsur Kramadangsa. Kramadangsa itu terjadi dari catatan-catatan: harta benda, pekerjaan, kehormatan, kekuasaan, keluarga, gerombolan, bangsa, jenis, kepandaian, kepercayaan, rasa hidup dan sebagainya. Jadi bila Kramadangsa mati orang akan dapat mempelajari unsur-unsur Kramadangsa tanpa senang dan benci dan tanpa rasa ingin mengubah. Catatan-catatan yang menjadi unsur-unsur Kramadangsa tersebut hidup, karena itu gerak dan diam dan perlu makan. Unsur-unsur Kramadangsa itulah yang mendorong dan menggerakkan Kramadangsa. Oleh karena itu bila orang tidak mengerti unsur-unsur Kramadangsa, sering terkejut akan perbuatan sendiri yang tidak diduga-duga, misalnya: bercerai dengan isterinya, menyumpahi dan mengusir anaknya, bertengkar dengan tetangga dan sebagainya. Catatan harta benda wujudnya: catatan rumah, halaman, sawah, harta dan sebagainya. Catatan harta benda tersebut hidup, oleh karena itu ingin kelangsungan hidupnya, dan catatan tersebut dapat pula mati. Seperti benda hidup lainnya catatan harta benda itu ada rasanya.

Catatan harta benda itu rasanya lemah sekali. Misalnya rumah itu dapat bocor, lapuk dan dapat rusak. Oleh karena merasa lemah, catatan harta benda berusaha agar menjadi kuat. Usaha untuk menjadi kuat itu menumbuhkan Kramadangsa. Jadi Kramadangsa itu pesuruh dari unsur-unsurnya. Kramadangsa itulah yang berusaha agar harta benda menjadi kuat. Kramadangsa itu mengerti tentang aturan terjadinya benda (barang dumadi), tetapi catatan harta benda tidak. Maka Kramadangsa itu hidup dalam ukuran ketiga, sedang catatan harta benda hidup dalam ukuran kedua. Andaikata diserang atau dirugikan, catatan harta benda tentu akan membela diri tanpa berpikir. Bila rasa membela diri itu muncul dalam perasaan, Kramadangsa akan memikir bagaimana untungnya membela diri. Jadi Kramadangsa itu adalah alat dari catatan harta-benda agar menguntungkan dan menolak bila dirugikan. Demikian pula unsur-unsur yang lain menggunakan Kramadangsa untuk membela diri. Antara unsur-unsur Kramadangsa itu sering bertentangan antara satu dengan yang lain, sehingga menyebabkan orang menemui kesulitan. Misalnya harta benda seseorang dihabiskan oleh anaknya. Anak adalah unsur dari Kramadangsa dan harta bendapun unsur dari Kramadangsa. Jadi dua unsur saling berselisihan. Perselisihan antara unsur-unsur itulah yang menyebabkan orang menemui kesulitan. Bila kesulitan itu diteliti, akan ketemu, bahwa catatan-catatan yang menjadi unsur Kramadangsa itu ada yang salah. Jadi catatan itu dapat benar dan dapat pula salah. Catatan benar rasanya enak, sedangkan catatan salah rasanya tidak enak. Bila orang mengerti bahwa catatan itu dapat benar dan dapat pula salah, dapatlah orang meneliti catatan salah untuk dibetulkan. Sebagai petunjuk yang jelas bahwa catatan itu salah bila sudah terjadi kesulitan.

CATATAN BENAR dan CATATAN SALAH
Catatan harta benda sering salah. Harta benda berguna untuk mencukupi kebutuhan hidup yaitu: makan, pakaian dan tempat tinggal. Jika keliru, harta benda itu dipergunakan untuk mencari kehormatan dan kekuasaan. Padahal kehormatan dan kekuasaan itu kebutuhan jiwa. Apabila harta benda digunakan untuk mencukupi kebutuhan jiwa, orang merasa tidak cukup, walaupun orang mempunyai berapa banyaknya harta benda, sehingga orang akan berebutan harta benda. Bila kita mengerti bahwa harta benda berguna untuk mencukupi kebutuhan raga atau hidup, orang akan tenteram, karena mengerti bahwa kebutuhan raga itu sedikit sekali. Harta benda untuk kebutuhan jiwa tanpa batas, sebab untuk bersaingan. Bersaingan itulah yang menyebabkan orang menjadi sewenang-wenang. Bila harta benda digunakan untuk kebutuhan jiwa, maka pekerjaan pun salah bila digunakan untuk bersaingan sehingga menyebabkan adanya pekerjaan yang dianggap rendah, tinggi, halus dan kasar. Jadi bila terjadi salah anggapan tentang pekerjaan maka akan ada pekerjaan bahagia dan celaka dan ada tingkat (pangkat) pekerjaan. Pekerjaan yang tingkatnya rendah disebut pekerjaan celaka dan yang tingkatnya tinggi disebut pekerjaan bahagia. Itulah yang menyebabkan orang berebutan tingkat tinggi. Demikian bila pekerjaan digunakan untuk kebutuhan jiwa menyebabkan orang berebutan pekerjaan tinggi sehingga menimbulkan perselisihan.

Bila orang mengerti bahwa pekerjaan itu digunakan untuk kebutuhan raga, maka orang akan merasa tenteram. Bila rasa celaka muncul dalam perasaan, orang akan melihat bahwa rasa celaka demikian adalah keliru, maka lenyaplah rasa celaka tersebut. Demikian selanjutnya bila rasa celaka muncul kembali. Tiap kali celaka muncul, catatan salah tentang pekerjaan yang menimbulkan rasa celaka tersebut menjadi benar. Bila catatan pekerjaan yang menjadi unsur Kramadangsa sudah benar, Kramadangsa tidak lagi merasa lebih tinggi atau kurang tinggi dengan orang lain dalam hal pekerjaan. Apabila pekerjaan sudah tidak dibandingkan dengan orang lain, orang akan merasa tenteram. Catatan kehormatan menyebabkan orang marah bila dihina dan tertawa bila dihormati. Jika orang tidak mengerti sifat unsur kehormatan tersebut, orang akan mengharapkan tidak marah bila dihina, sebab marah itu menyebabkan berselisih bila lahir menjadi perbuatan. Harapan agar tidak marah tersebut menjadi menahan marah. Marah yang ditahan itu tidak hilang marahnya, tetapi hanya berganti rupa yang berwujud menggerutu, membicarakan orang lain dan sebagainya. Orang sering lupa dengan marahnya sendiri yang sudah berganti rupa. Bila orang tidak lupa dengan marahnya sendiri yang sudah berganti rupa dapatlah melanjutkan meneliti marahnya sendiri sampai kepada sumbernya yaitu unsur kehormatan yang dihina. Catatan kehormatan sering pula salah. Wujudnya berupa pengertian demikian: "Dihormati itu rasanya enak." Catatan kehormatan yang salah tersebut menyebabkan orang berusaha mati-matian agar supaya dihormati. Inilah yang menyebabkan orang berebutan kehormatan.

Catatan kehormatan benar, berwujud pengertian demikian: "Hormat itu rasanya enak." Hormat itu rasanya enak, baik hormat itu dari diri sendiri kepada orang lain maupun dari orang lain kepada diri sendiri. Bila mengerti bahwa hormat itu rasanya enak, orang tidak usah menunggu dihormati oleh orang lain tetapi cukuplah menghormati orang lain. Meskipun lahir atau tidak lahir menjadi perbuatan, menghormati itu rasanya enak. Jadi enak dalam kehormatan itu pada diri sendiri tidak pada orang lain. Bila catatan kehormatan yang menjadi unsur Kramadangsa sudah benar, orang dapat melihat dan tidak lupa kepada rasanya sendiri, bila rasa minta dihormati muncul dalam perasaan. Bila rasa minta dihormati itu ketahuan, tidak akan lahir menjadi perbuatan minta dihormati. Mengetahui diri sendiri minta dihormati itu menyebabkan rasa tenteram. Mengetahui diri sendiri minta dihormati itu berbeda dengan menahan diri, agar tidak kelihatan minta dihormati. Menahan diri itu rasanya gelisah, takut dan tidak enak, sedangkan mengetahui itu rasanya tenteram, tabah dan enak. Jadi menahan diri itu mengandung rasa takut sedangkan mengetahui itu mengandung rasa tabah. Catatan kekuasaan yang menjadi unsur Kramadangsa dapat-pula benar dan salah. Bila catatan tersebut benar rasanya enak, sedangkan Bila salah rasanya tidak enak. Jika Kramadangsa mati, orang akan dapat melihat unsur kekuasaan tersebut. Unsur kekuasaan ini menyebabkan orang menjadi benci bila diganggu dan menjadi senang bila dibantu. Bila orang tidak mengerti unsur kekuasaan tersebut orang akan mencari kekuasaan dalam masyarakat, sehingga timbullah berebutan kekuasaan dalam masyarakat. Cita-cita untuk mencari kekuasaan akan lahir menjadi usaha agar ditakuti dalam masyarakat.

Bila merasa ditakuti, orang merasa berkuasa dan puas, sehingga orang berebutan agar ditakuti dan menakut-nakuti dalam masyarakat. Cita-cita mencari ditakuti di dalam masyarakat dianggap cita-cita luhur. Anggapan terhadap hal tersebut dinyatakan dalam ungkapan sebagai berikut: "Orang baru akan memperoleh kewibawaan bila disegani aleh orang lain." Dalam ungkapan tersebut mengandung arti bahwa kewibawaan seseorang itu bila dapat ditakuti atau menakut-nakuti orang lain. Demikianlah wujud catatan unsur kekuasaan bila diteliti. Bila penelitian dilanjutkan, akan terlihat bahwa catatan tersebut salah. Untuk jelasnya seperti di bawah ini. Rasa mencari kekuasaan itu lahir menjadi keinginan diturut atau dipercaya oleh orang lain. Orang menurut itu terdorong oleh rasa takut ancaman atau harapan akan kebahagiaan. Maka usaha untuk diturut atau dipercaya itu berupa ancaman atau janji yang berupa harapan bahagia, sehingga timbullah dalam masyarakat ancaman-ancaman dan janji-janji. Untuk menguatkan ancaman danjanji-janji tersebut orang mengadakan kelompok-kelompok yang berselisih satu sama lain. Inilah yang menyebabkan peperangan. Demikian catatan unsur kekuasaan yang salah menyebabkan tidak enak.

Jika orang mengerti catatan tersebut salah, orang akan dapat membetulkan seperti berikut: Orang ingin merasa enak dan menolak rasa tidak enak. Tiap orang yang merasa tidak enak dan tidak mengerti bagaimana caranya mendapatkan enak, akan bertanya kepada orang lain yang dianggap dapat. Maka bila ada orang yang dianggap oleh orang banyak dapat mengenakkan orang lain dalam salah satu hal, orang tersebut akan dipercaya oleh orang banyak. Misalnya dukun, dokter, ahli negara, ahli jiwa dan sebagainya. Jadi dipercaya orang lain itu, karena dapat mengenakkan. Catatan demikian itu benar. Maka untuk dipercaya orang, hanyalah dengan mengenakkan orang lain. Bila catatan unsur kekuasaan tersebut sudah benar, orang dapat mcngetahui rasanya sendiri, rasa ingin dipercaya orang lain yang tidak dengan cara mengenakkan orang lain pada waktu muncul dalam perasaan. Bila rasa ingin dipercaya orang lain tersebut ketahuan sebelum lahir menjadi perbuatan, rasa tersebut tidak akan lahir menjadi perbuatan. Kemudian orang akan melihat apa yang harus dilakukan seketika itu, tanpa memikir panjang. Tindakan demikian itu hasilnya sama enaknya.

Catatan keluarga yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan itu benar, rasanya enak dan bila salah rasanya tidak enak. Bila Kramadangsa mati orang akan dapat melihat unsur keluarga tersebut. Keluarga itu terdiri dari suami/isteri, anak yang belum berkeluarga dan orang tua jompo yang jadi tanggungannya. Unsur keluarga ini menyebabkan orang marah bila diganggu dan tertawa bila dibantu. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri tentang hubungannya dengan anggota keluarga lain, catatan keluarga tersebut salah. Catatan keluarga salah menyebabkan perselisihan dalam keluarga. Perselisihan dalam keluarga itu wujudnya ialah, orang bertengkar atau bercerai dengan suami/isterinya, memarahi anaknya dan sebagainya. Jadi heboh dalam keluarga itu disebabkan dari tidak mengerti rasanya sendiri atau dirinya sendiri. Jadi ketenteraman keluarga itu tergantung kepada pengertiannya tentang diri sendiri. Pengertian diri sendiri dalam keluarga adalah mengetahui hubungan diri sendiri dengan anggota keluarga lainnya. Bila orang mengetahui hubungannya dengan anggota keluarga lainnya, catatan keluarga menjadi benar. Orang sering ditipu oieh diri sendiri yang merasa cinta kepada suami/isterinya. Rasa cinta di sini dimaksudkan cinta tanpa syarat dan tanpa batas, sebab cinta yang bersyarat dan berbatas adalah bukan cinta. Jadi orang sering merasa cinta kepada suami/isterinya tanpa syarat dan tanpa batas. Rasa cinta tersebut dapat diteliti demikian. Jika orang membelikan baju isteri/suaminya, tetapi isteri/suaminya masih cemberut, apakah orang masih terus mencintai isteri/suaminya? Tentu saja tidak, tetapi menjadi marah. Jadi orang membelikan baju isteri/suaminya itu mengharapkan senyum. Jadi baju ditukar dengan senyum, demikian itu sama dengan jual beli. Jadi orang tidak mencintai isteri/suaminya, tetapi jual beli.

Demikianlah orang dapat meneliti rasanya sendiri. Bila penelitian dilanjutkan, orang akan melihat rasanya sendiri pada waktu mencari pasangan, rasanya demikian: "Jika dia menjadi suami/isteriku, aku senang sekali." Dalam ungkapan tersebut menunjukkan bahwa orang hanyalah memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan calon pasangannya. Jadi orang menghargai suami/isterinya hanyalah sebagai kesenangan belaka, seperti kesenangan yang lain, misalnya burung perkutut, gamelan, kucing dan sebagainya. Rasa menghargai seperti itu adalah sewenang-wenang. Jadi orang itu berbuat sewenang-wenang kepada suami/isterinya. Bila orang mengerti kesewenangannya kepada suami/isterinya, maka catatan keluarga yang merupakan unsur Kramadangsa bagian suami/isteri menjadi benar. Bila rasa sewenang-wenang muncul dalam perasaan dalam hubungannya dengan suami/isterinya diketahui, tidak akan lahir menjadi perbuatan sewenang-wenang. Demikian pula orang sering merasa sayang kepada anaknya. Bila diteliti akan diketemukan bahwa diri sendiri menghargai anaknya hanyalah untuk kehormatan. Jika anak itu membuat bangga orang tuanya, akan disayangi, tetapi bila memalukan akan dibenci. Rasa yang sering disebut sayang kepada anak itu adalah rasa hidup untuk kelangsungan jenis, yang wujudnya memelihara anaknya pada waktu kecil. Rasa hidup tersebut bukanlah kasih. Oleh karena itu setelah anak itu menjadi besar akan berselisih dengan orang tuanya. Oleh karena orang menghargai anaknya hanyalah untuk kehormatan, maka orang itu berbuat sewenang-wenang kepada anaknya. Bila orang mengerti kesewenangannya kepada anaknya maka catatan keluarga yang merupakan unsur Kramadangsa bagian anak menjadi benar. Bila rasa sewenang-wenang muncul dalam perasaan dalam hubungannya dengan anak diketahui, tidak akan lahir menjadi perbuatan sewenang-wenang. Catatan gerombolan atau golongan, yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan tersebut benar rasanya enak, bila salah tidak enak. Jika Kramadangsa mati, orang akan mengetahui unsur tersebut.

Golongan tersebut dapat merupakan golongan filsafat, ilmu jiwa, partai politik, kebatinan dan sebagainya. Unsur golongan menyebabkan orang menjadi benci bila golongannya diganggu dan senang bila dibantu. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri dalam hubungannya dengan anggota-anggota golongan tersebut, catatan golongan akan salah. Catatan golongan salah menyebabkan perselisihan dalam golongan tersebut. Perselisihan tersebut sering berwujud perebutan harta benda, kehormatan dan kekuasaan. Jadi heboh dalam golongan disebabkan oleh karena tidak mengerti rasanya sendiri. Jadi ketenteraman golongan itu hanyalah tergantung kepada pengertian diri sendiri. Bila orang mengerti bagaimana orang menghargai anggota golongan lain, catatan golongan akan benar. Dalam golongan, orang mempergunakan kawan segolongannya untuk kepentingan sendiri yang seolah-olah untuk kepentingan golongannya. Kepentingan sendiri tersebut berwujud mencari harta benda, kehormatan dan kekuasaan. Kepentingan sendiri itulah yang menyebabkan perselisihan. Jika kepentingan sendiri diteliti, akan terlihat bahwa kepentingan-kepentingan sendiri itu banyak sekali yang bertentangan dengan kepentingan kawan-kawan yang lain. Pertentangan kepentingan-kepentingan tersebut menyebabkan kesulitan. Bila kesulitan tersebut tidak dipecahkan, tentulah dikemudian hari akan terjadi perselisihan. Bila kesulitan tersebut dapat diselesaikan, maka catatan menjadi benar, orang akan mengetahui bila rasa mencari keuntungan dari golongannya tersebut muncul dalam perasaan. Bila ketahuan, tidak akan lahir menjadi perbuatan. Mengetahui hal tersebut rasanya tenteram. Catatan bangsa yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila benar rasanya enak dan bila salah rasanya tidak enak. Bila Kramadangsa mati, orang akan melihat unsur bangsa tersebut. Bangsa adalah kumpulan orang-orang dalam satu negara. Unsur bangsa itu menyebabkan orang marah bila diganggu dan tertawa bila bangsanya dibantu. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri dalam hubungannya dengan orang lain dalam satu bangsa, maka catatan bangsa akan salah.

Catatan bangsa salah menyebabkan pertikaian dalam bangsa itu. Pertikaian tersebut sering berwujud pertikaian filsafat, ilmu jiwa, dan aliran. Apabila pertikaian itu berkembang, maka akan menjadi perang saudara. Bila rasanya sendiri diteliti, orang dapat melihat bahwa di belakang filsafat, ilmu jisva atau aliran tersebut mengandung rasa perebutan harta benda, kehormatan dan kekuasaan. Bila rasa tersebut ketahuan orang akan mengerti bahwa pertikaian filsafat, ilmu jiwa dan aliran tersebut hanyalah merupakan sandiwara diri sendiri yang akan mengejar harta benda, kehormatan dan kekuasaan. lnilah yang menyebabkan huru-hara dalam bangsa. Bila rasa diri sendiri tersebut diketahui, catatan bangsa yang menjadi unsur Kramadangsa menjadi benar. Bila rasa tersebut muncul dalam perasaan, orang akan mengetahui, sehingga tidak lahir menjadi perbuatan. Catatan ilmu kebatinan yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan itu benar rasanya enak dan bila salah tidak enak. Jika Kramadangsa mati, orang akan dapat melihat unsur ilmu kebatinan tersebut. Unsur ilmu kebatinan itu menyebabkan orang menjadi benci bila ilmu kebatinannya disalahkan dan senang bila dibenarkan. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri dalam hubungannya dengan catatan ilmu kebatinan tersebut, catatan ilmu kebatinan tersebut salah. Catatan ilmu kebatinan salah menyebabkan perselisihan. Rasanya sendiri yang berhubungan dengan ilmu kebatinannya sendiri itu adalah rasa senangnya sendiri. Orang senang sebab mendapat keuntungan dari ilmu kebatinan tersebut. Keuntungan tersebut berupa harta benda, kehormatan dan kekuasaan.

Bila orang tidak melihat senangnya sendiri, orang tidak akan dapat meneliti benar atau salahnya ilmu kebatinan tersebut. Bila mengetahui rasa senangnya sendiri, orang akan melihat benar atau salahnya ilmu kebatinannya sendiri. Jadi catatan ilmu kebatinan menjadi benar. Bila catatan ilmu kebatinan yang menjadi unsur Kramadangsa sudah benar, bila ilmu kebatinannya disalahkan atau dijelek-jelekkan orang lain, orang akan mengerti bahwa yang dijelek-jelekkan itu orangnya, bukan ilmu kebatinannya. Dan orang lalu mengerti bahwa orang lain yang menjelek-jelekkan tersebut benci kepada orangnya tetapi tidak kepada ilmu kebatinannya. Orang benci kepada orang lain tentulah mencari sebab untuk menjelek-jelekkan. Orang akan mengerti kepada diri sendiri, bila diri sendiri membenci kepada orang lain tentulah juga mencari sebab untuk menjelek-jelekkan. Jadi diri sendiri itu rasanya sama dengan orang lain. Mengetahui demikian rasanya damai dan tenteram. Kepandaian-kepandaian dan ilmu pengetahuan adalah merupakan unsur Kramadangsa. Ilmu pengetahuan itu ada pada orang berupa kepandaian. Oleh karena itu di sini hanya akan diterangkan tentang kepandaian saja. Catatan kepandaian yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan itu benar rasanya enak dan bila salah rasanya tidak enak. Bila Kramadangsa mati orang akan melihat unsur kepandaian tersebut. Unsur Kramadangsa kepandaian itu menyebabkan orang menjadi benci bila dijelekkan dan senang bila dipuji. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri yang berhubungan dengan kepandaiannya sendiri, catatan kepandaian tersebut salah. Catatan kepandaian salah menyebabkan orang membangga-banggakan kepandaian dan bersaing-saingan kepandaian, sehingga terjadi pertikaian. Rasa sendiri yang berhubungan dengan kepandaian sendiri itu rasanya bangga. Bila mengetahui rasa bangganya sendiri orang akan dapat mengetahui rasa bangga orang lain dalam hal kepandaian.

Orang dapat membuat kapal terbang rasanya bangga, anak dapat bermain gundu bangga pula rasanya. Malahan rasa bangga dalam kepandaian itu tidak terbatas pada orang tetapi juga pada hewan. Gangsir ngentir (berbunyi) rasanya bangga dan burung dapat terbang di angkasa pun rasanya bangga. Jadi rasa bangga diri sendiri sama dengan rasa bangga orang lain dan sama pula dengan rasa bangga hewan dalam hal kepandaian. Bila orang mengerti dengan rasa sama tersebut, catatan kepandaian yang menjadi unsur Kramadangsa menjadi benar. Catatan benar rasanya cnak. Bila rasa bangga sendiri muncul dalam perasaan, diri sendiri akan mencari bahwa rasa bangga tersebut sama dengan rasa orang yang menciptakan lagu atau sama dengan rasa seorang panglima perang yang dapat menciptakan siasat perang, sama pula dengan rasanya seekor gangsir yang sedang berbunyi. Demikianlah unsur-unsur Kramadangsa yang dapat menggerakkan Kramadangsa. Bila unsur-unsur Kramadangsa sudah diketahui, orang tidak akan lupa dengan sikapnya sendiri menghadapi perbuatannya. Demikian cara mempelajari ilmu jiwa.

Sumber : http://reocities.com/SouthBeach/Tidepool/1029/md1.htm

Rasa Bebas





Ceramah Ki Ageng Suryomentaram ini disampaikan beliau dalam pertemuan yang diadakan di Yayasan Hidup Bahagia, Jakarta, pada tanggal 19 Juli 1958.

Rasa bebas adalah rasa tidak bertentangan (konflik). Apabila orang melihat sesuatu dan mengerti sifatnya, ia akan merasa bebas; yakni tidak berselisih dengan sesuatu yang dilihat dan dimengerti. Melihat dan mengerti itu tidak hanya melalui panca indera, tetapi juga dengan rasa hati dan pikiran.

Bila melihat dan mengerti dalam diri orang itu terpisah, hal itu tidak dapat menimbulkan rasa bebas. Misalnya seorang digigit nyamuk malaria. Ia memperoleh keterangan, bahwa nyamuk malaria itu, setelah menggigit orang yang menderita sakit malaria, ia tentu mengandung kuman-kuman penyakit, dan akan menularkan penyakit pada orang lain yang digigitnya. Mendengar keterangan semacam itu, orang dapat mengerti, tetapi tidak melihat prosesnya. Maka tatkala ia menderita sakit malaria dan makan obat malaria, namun penyakitnya tidak sembuh, berselisihlah ia dengan penyakit malaria, maka ia merasa tidak bebas.

Demikian bila orang mengerti, tetapi tidak melihat, sehingga ia tidak bebas. Sebaliknya, walaupun melihat, kalau tidak mengerti, orang pun tidak akan bebas. Umpama, kita melihat bola lampu di atas ini, yang bentuknya bulat dan cahayanya terang. Tetapi bila kita tidak mengerti bagaimana cara memadamkan atau menyalakannya, jikalau bola lampu itu tiba-tiba padam, kita menjadi bingung, lantas bertengkar dengan bola lampu itu, sehingga tidak bebas. Jadi rasa bebas atau tidak berselisih itu timbul, jika kita serentak melihat sesuatu dan mengerti sifatnya. Misalnya kita melihat dan mengerti, bahwa api itu bila dipegang dapat membakar tangan. Maka kita merasa bebas dan tidak bertengkar dengan api. Artinya, kita tidak berusaha mengubah sifat api itu, sehingga tidak membakar tangan yang memegangnya. Rasa bebas ini melahirkan perbuatan yang pasti benar. Tegasnya kita tidak akan berbuat, tanpa sengaja memegang api. Supaya lebih jelas, saya beri contoh lain lagi. Misalnya kita melihat dan mengerti, bahwa ular belang itu berbisa, ia dapat membinasakan orang yang dipagutnya. Maka bebaslah kita untuk tidak menentang ular itu. Tegasnya, kita tidak perlu berusaha mengubah sifat ular belang itu supaya tidak berbisa. Tindakan kita yang tepat dalam menghadapi ular itu, ialah menyingkiri atau mengusirnya.

Melihat dan mengerti terhadap rasa batin (emosi} pun dapat menimbulkan rasa bebas atau tidak berselisih, antara batin yang melihat dan batin yang dilihatnya. Sebaliknya, bila melihat dan mengerti terhadap rasa-rasa itu terpisah, hal itu tidak menimbulkan kebebasan, melainkan perselisihan. Misalnya kita sedang marah, kita menyadari kemarahan itu. Tetapi kita tidak mengerti makna marah kita itu. Karena itu kita menentang kemarahan kita, yang berwujud perbuatan menahan marah. Pertentangan itu merupakan perang batin, dalam mana pada suatu saat kita merasa "aku marah", pada saat kemudian kita merasa "aku menahan marah". Sehingga kita bingung untuk menentukan diri kita sendiri ini yang mana. Yang marah, atau yang menahan marah. Kita mengira bahwa kedua rasa itu, berasal dari dua unsur yang berlainan.

Padahal, rasa yang marah dan rasa yang menahan marah itu sebenarnya adalah sama sifatnya. Pada waktu kita marah, kita merasa bahwa kemarahan itu akan menimbulkan tindakan yang berakibat tidak enak. Untuk menghindari hal itu kita lalu berusaha menahan marah, atau dengan kata lain, menentang marah. Jika diteliti rasa menahan atau menentang marah itu, ternyata juga rasa marah; yakni marah terhadap diri-sendiri. Kalau semula kita marah terhadap orang lain, kini kita marah terhadap diri sendiri. Jadi yang yang menahan marah adalah si marah, yang masih bersifat sama. Pengertian di atas itu melahirkan kesadaran bahwa diri-sendiri si-marah tidak dapat mengubah kemarahan sendiri. Dengan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa diri-sendiri "si marah", tidak dapat mengubah sifat dirinya. Setiap kali kita berusaha mengubah diri sendiri, selalu tidak berhasil, melainkan berganti rupa. Yaitu si marah menjadi si menahan marah. Bila kita sudah mengerti bahwa kita tidak dapat mengubah diri-sendiri, maka kita tidak ingin mengubah. Bila kita, dalam keadaan perang batin itu tidak ingin mengubah diri-sendiri, maka diri-sendiri lalu 'diam, tidak bergerak'. Dengan kata iain, berarti diri-sendiri 'mati'. Sudah tentu yang mati bukan raga kita, melainkan rasa "aku" kita, atau rasa "aku" si Kramadangsa. "Kramadangsa" ini adalah rasa "aku", identik dengan namanya sendiri-sendiri. Orang itu mempunyai nama sendiri-sendiri, dan merasa "aku" dengan namanya sendiri-sendiri. Jika ia bernama Suta, ia merasa aku si Suta, jika ia bernama Naya, ia merasa aku si Naya. Rasa aku identik dengan nama sendiri ini, saya beri istilah "Kramadangsa".

Jadi yang marah itu adalah diri-sendiri yang merasa aku si Kramadangsa, dan yang menahan marah pun si Kramadangsa. Jika Kramadangsa ini mati, tentu perbuatan marahnya tidak terlaksana. Mengerti atas kemarahan sendiri demikian itu, kita bebas dari kemarahan kita sendiri. Artinya kita tidak bertentangan dengan marah kita. Kebebasan ini, pasti melahirkan perbuatan benar, yang tidak mungkin salah. Bila kita bergaul dengan orang lain, kita dapat mengetahui rasa orang itu. Mengetahui rasa orang lain pun, menimbulkan rasa bebas, yang tidak berselisih dengan orang lain. Tidak berselisihan ini, berarti tidak menabrak rasa orang lain, oleh karenanya damai dalam hubungannya. Rasa yang perlu dilihat dan dimengerti itu, ialah rasa kita sendiri. Karena meskipun kita mengetahui banyak macam barang-barang, tetapi bila kita tidak mengetahui diri kita sendiri, pasti berselisihan dengan diri-sendiri, dan timbulah perang batin (konflik). Tetapi kita takut melihat diri-sendiri dan kita berusaha menutupi diri-sendiri, supaya tidak tampak seperti diri-sendiri. Bila diri-sendiri sudah kelihatan tidak seperti diri-sendiri, barulah kita puas. Jadi kita tidak puas hanya sebagai mana adanya diri-sendiri. Sekarang, mari kita teliti rasa kita sendiri, yang takut melihat diri-sendiri ini.

Terlebih dahulu saya jelaskan dalil saya, ialah bahwa kita takut melihat diri-sendiri ini adalah sama dengan setiap orang. Tetapi kita takut melihat kenyataan, bahwa diri kita itu sama dengan orang lain. Maka kita cari tutupnya, untuk menutupi diri-sendiri, supaya tidak sama dengan setiap orang. Sehingga kita berusaha mati-matian mencari kekayaan, kedudukan dan kekuasaan (bhs. Jawa: semat, drajat, kramat) untuk menutupi diri-sendiri, agar supaya tidak tampak keadaan yang sesungguhnya. Kekayaan atau harta benda, kecuali untuk kebutuhan penghidupan, kita pakai untuk menutupi diri kita. Misalnya kita memakai pakaian baru yang mahal dan bagus, kita lantas congkak dan sombong. Rasa congkak dan sombong ini jika diteliti, berarti kita merasa beda dari keadaan kita yang sebenarnya, yaitu kita sudah merasa lain dari pada setiap orang. Bila kita melihat dan mengerti bahwa diri kita adalah sama dengan setiap orang, maka kita dapat meneliti diri-sendiri sebagai berikut: "Saya memakai baju baru mengapa menjadi congkak, sombong, ini karena apa?

Apakah kalau bajuku baru, diriku pun turut menjadi baru? Sudah barang tentu sifat diriku yang sebenarnya, masih tetap sama seperti yang kemarin itu." Demikian kita menutupi diri-sendiri namun tidak mengubah keadaan yang sesungguhnya. Kedudukan pun dipakai untuk menutupi diri kita sendiri. Misalnya kita baru saja memperoleh kenaikan pangkat, lantas kita merasa congkak, sombong. Bila kita mengerti bahwa diri-sendiri sama dengan setiap orang, maka kita dapat meneliti kecongkakan dan kesombongan kita demikian: "Aku dapat kenaikan pangkat, mengapa menjadi congkak, sombong ini karena apa? Apakah kalau pangkatku tinggi, sifat batinku pun menjadi tinggi? Sudah tentu sifat diriku yang sebenamya masih sama saja seperti yang kemarin itu." Bila kita memeluk salah satu agama, agama ini pun kita gunakan untuk menutupi diri kita sendiri, supaya tidak kelihatan keadaan yang benar, dan kita dapat menyombongkan diri. Memang agama itu baik karena ia mengajarkan: "Janganlah berdusta." Tetapi apakah kita dengan menganut pelajaran itu, lantas menjadi baik dan tidak berdusta? Sudah barang tentu sifat batin kita yang sesungguhnya, masih tetap seperti kemarin ini. Demikian kita berusaha menutupi diri, namun kita tetap sebagaimana adanya. Umpama kita masuk suatu kelompok ideologi yang bersemboyan: "Sama Rata Sama Rasa". Semboyan itu pun kita pakai untuk menutupi diri kita. Sehingga kita sombong dan merasa sudah berbeda dari kita sendiri. Padahal sifat kita masih tetap sama, yaitu kita masih suka menyembunyikan uang isteri kita dan tidak berlaku sama rata sama rasa. Demikian itu kita berusaha mati-matian mencari tutupnya, untuk menutupi supaya tidak tampak seperti kita sendiri. Ada lagi tutup yang berupa nama-nama dari orang-orang termashur. Misalnya yang kita pakai nama-nama jalan, seperti jalan Diponegoro, Imam Bonjol dan lain-lain. Hal mana mencerminkan bahwa kita berpegangan pada orang-orang ternama.

Misalnya kita mengandal pada Prabu Joyoboyo yang di dalam dongeng kesohor, karena ia dapat meramalkan masa tujuh ratus tahun yang akan datang. Orang ternama itu, sering kita pergunakan untuk menakuti isteri kita sendiri, demikian: "Lihatlah Prabu Joyoboyo ini, ternama, hal-hal yang akan terjadi tujuh ratus tahun kemudian, ia sudah mengetahuinya. Apakah kamu tidak takut?" Biasanya isteri kita menjawab: "Kalau terhadap Prabu Joyoboyo, aku takut. Tetapi terhadap kamu, tidak!" Demikian kita mati-matian mencari tutup, yang berupa orang-orang termashur, untuk menutupi diri kita, agar tidak tampak keadaannya yang asli. Sekarang marilah kita teliti, bagaimana sifat kita yang sama dengan setiap orang itu? Kita masing-masing merasa pribadi, yaitu merasakan apa saja secara sendiri, tidak dapat mewakilkannya kepada orang lain. Umpama saya menderita sakit gigi, dan saya minta saudara saya untuk mewakili penderitaan itu. Dapatkah sakit gigi itu dipindahkan kepada orang lain, pastilah tidak mungkin. Mau tidak mau, harus saya derita sendiri. Demikian rasa pribadi, yang berarti menanggung sendiri segala perasaan kita. Oleh karena setiap orang itu merasa pribadi, maka kita masing-masing mencari enak (senang) sendiri (pribadi); dengan tidak mempedulikan orang lain. Meskipun orang lain itu terdiri dari anak atau isteri kita. Maka kita ini sebenarnya tidak mencintai anak-isteri kita, melainkan pura-pura mencintai mereka. Demikian kita menutupi diri supaya tidak kelihatan sifat kita yang sebenarnya. Mari saudara-saudara saya ajak bersama-sama meneliti diri kita sendiri. Apakah kita, benar-benar mencintai suami/isteri kita? Ingatlah akan maksud kita pada waktu kita memilih calon suami/isteri kita. Apakah benar-benar kita ingin membahagiakan mereka sebagai manusia? Kaiau kita ingin membahagiakan manusia saja, ada ribuan manusia yang bersedia untuk dibahagiakan. Tetapi kita hanya ingin membahagiakan satu orang saja, yaltu calon suami/isteri kita.

Maka jelaslah keinginan itu bukanlah cinta kasih, melainkan rindu asmara, mengejar kenikmatan diri-sendiri. Rasa hati kita: "Bila aku berjodoh dengan orang itu, aku akan senang sekali." Kita semata-mata memikirkan kesenangan diri-sendiri dengan tidak memperdulikan kepentingan calon suami/isteri kita. Jadi menghargai suami/isteri kita, hanyalah sebagai barang untuk kesenangan. Sama dengan barang-barang kesenangan yang berupa burung perkutut, kucing, dengkek (nama kartu ceki, dalam bahasa Jawa) dan sebagainya. Misalnya kita memelihara burung perkutut, bila burung itu bersiul bagus "hoorketekung", kita akan menambah makannya, air minumnya, dan memandikan serta mengereknya tinggi-tinggi. Tetapi bila burung itu berbunyi buruk "tekekkek", kita lantas benci dan membantingnya. Demikian juga tindakan kita terhadap suami/isteri kita, bila mereka tidak menyenangkan kita, seperti perkutut yang berbunyi "hoorketekekkek" kita segera membantingnya. Maka dalam setiap pertengkaran antara suami-isteri, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh tindak-tanduk yang tidak menyenangkan satu sama lain, seperti perkutut bersiul "hoorketekekkek" itu. Oleh karena kita tidak mau melihat diri-sendiri sebagaimana adanya, maka kita lalu menutupi diri sebagai berikut: "Sebetulnya aku ini mencintai isteri, buktinya aku membelikan pakaian dan rumah yang bagus." Tetapi kalau diteliti, apakah membelikan barang-barang itu berarti cinta?

Misalnya seorang suami, tatkala ia pulang dari luar negeri, membawa oleh-oleh berupa kain-kain indah untuk isterinya; dengan harapan bahwa sang isteri tentu akan senang dan ketawa bila melihat barang-barang tanda kecintaannya. Tetapi ternyata isterinya tidak ketawa senang, malah mengomeli: "Kamu pergi jauh-jauh ke luar negeri, hanya membawa kain semacam itu, di Jakarta saja banyak yang menjualnya." Bagaimana tanggapan suami itu, apakah ia masih tetap mencintai isterinya? Tentulah tidak, bahkan sebaliknya, ia akan kecewa dan marah. Maka jelaslah, hal itu bukanlah cinta kasih, melainkan sebagai hal jual-beli, yakni si suami membayar dengan kain untuk membeli tawa si isteri. Demikian dalam hubungan suami-isteri, masing-masing pihak mengharapkan faedah sebanyak-banyaknya, dan memberi faedah sedikit mungkin. Begitu juga terhadap anak-anak kita, kita pun tidak mencintainya. Yang sering kita anggap sebagai cinta kasih, ialah hasrat hidup untuk melangsungkan keturunan.

Misalnya di waktu anak kita masih kecil, kita rawat baik-baik supaya bisa berlangsung hidupnya. Sama halnya dengan kucing atau hewan lain, yang melindungi anaknya yang masih kecil. Tetapi bila anak itu sudah dewasa, kita sering mengajaknya bertengkar. Padahal pertengkaran itu bukanlah cinta kasih. Di samping untuk melanjutkan keturunan, anak itu kita anggap sebagai dana pensiun dan alat kebanggaan. Kita merasa: "Anakku kudidik demikian rupa, agar ia memperoleh ijazah dan kedudukan baik dengan penghasilan besar. Karena jika saya sudah tua dan tidak kuat lagi bekerja, anakkulah yang memberi pensiun padaku." Bahkan penilaian ini sering menyeleweng jauh demikian: "Jika anakku berpenghasilan besar, sedang aku sudah tua, tidak bekerja lagi, tetapi masih butuh tambah isteri, maka kuharap ia akan mengawinkan aku lagi." Selain untuk cadangan pensiun, kita menilai anak sebagai alat kebanggaan. Maka jika anak tidak membanggakan kita, tetapi mencemarkan nama kita, marahlah kita dan mengusirnya. Demikian persamaan diri kita dengan orang lain, atau setiap orang, yaitu kita sendiri merasa pribadi, mencari enak pribadi, dengan mengorbankan orang lain; walaupun anak-isteri/suami sendiri. Oleh karena itu, kita sendiri bila diganggu atau dirugikan lantas marah, sekalipun yang mengganggu anak-isteri-suami. Jadi sifat kita ini sebenarnya buas, galak. Padahal marah itu tidak mengenakkan, melainkan menyakiti orang lain, maka kita ini suka menyakiti orang lain; ibarat senjata yang ampuh. Jadi dapat dikatakan kita ini buas! galak dan ampuh, yang sama dengan tabiat sewenang-wenang. Maka kesimpulannya sifat kita sendiri ini buas, ampuh, sewenang-wenang, yang sama dengan orang lain atau setiap orang. Bila kita mengerti bahwa sifat diri-sendiri yang buas, ampuh dan sewenang-wenang ini sama dengan orang lain, kita segera mengerti bahwa tidak ada orang yang baik. Pengertian itu membuat kita tidak lagi dapat dikelabui oleh pernyataan adanya orang baik.

Dunia menjadi kacau-balau sekarang ini, karena manusia kena dikelabui oleh pernyataan tentang adanya orang baik. Sering kali dikabarkan bahwa di sana ada orang baik, lantas kita ikut-ikutan menyatakan benar ia baik, dan mempercayainya saja; tetapi pada akhirnya kita kecewa. Jadi bila kita mengerti bahwa kita sendiri buas, ampuh, sewenang-wenang sama dengan orang lain; kita tidak dapat ditipu oleh pernyataan adanya orang baik, dan tidak dapat menipu pada diri-sendiri, dengan berpura-pura baik. Hal mana berarti kita melihat kenyataan yang ada pada diri-sendiri. Pengertian diri-sendiri inilah, yang seharusnya dipakai sebagai landasan membangun masyarakat. Pada masa sekarang ini, pembangunan masyarakat kita tidak berdasar atas hal-hal yang nyata, tetapi berdasarkan atas cita-cita yang tidak nyata, yang dapat menimbulkan bentrokan. Membangun masyarakat yang luas itu, harus dimulai dari masyarakat lingkungan kecil; yaitu lingkungan keluarga.

Bila kita mengetahui kenyataan kita sendiri, kita dapat mengetahui pula kenyataan keadaan anak kita. Kalau diselidiki, ternyata anak itu dendam terhadap kita. Mengetahui dendam anak kita itu lebih mudah dari pada mengertinya. Misalnya pada masa kanak-kanak, kita setiap kali menderita susah, kita selalu menyalahkan orang tua kita. "Kalau orang tuaku tidak begini atau begitu, tentu aku tidak akan menderita seperti sekarang." Kemudian kita dapat pula mengetahui kenyataan isteri/suami kita, yang kecewa terhadap kita; karena mereka merasa menjadi korban dari watak sewenang-wenang kita. Dalam membangun masyarakat, orang sering kali menanyakan: "Apakah seseorang itu diperuntukkan masyarakat, atau masyarakat itu diperuntukkan seseorang?" Pertanyaan tersebut telah lama usianya, dan memperoleh dua macam jawaban. Yaitu yang pertama, bahwa seseorang untuk masyarakat dan yang kedua adalah masyarakat untuk seseorang. Jawaban bahwa masyarakat itu untuk seseorang, ini berarti yang dipentingkan adalah perseorangan. Masyarakat harus memberi kemerdekaan kepada seseorang. Kemerdekaan yang diberikan kepada setiap orang itu, dipergunakan oleh masing-masing orang, untuk mencari kekayaan sebanyak-banyaknya, tidak kenal batas. Sehingga menimbulkan bentrokan dengan kepentingan masyarakat. Hal itu kemudian meletus menjadi pemberontakan atau peperangan. Padahal perang adalah bertentangan dengan tujuan hidup. Kalau tujuan hidup ialah untuk melangsungkan kehidupan, sedangkan perang adalah bunuh membunuh. Maka perang, dengan dalih apapun adalah jahat dan keliru. Jawaban lainnya bahwa seseorang untuk masyarakat, ini pun keliru. Karena pertanyaannya sendiri keliru, maka bila dijawab, jawabannya pasti keliru. Kekeliruan ini terdapat pada kedua pertanyaan, yang berupa pemisah seseorang dari masyarakat. Sedang keadaan yang sebenarnya, seseorang dan masyarakat bukan dua badan terpisah, melainkan satu badan kesatuan.

Masyarakat itu terjadi dari hubungan seorang dengan seorang, yang diatur dengan peraturan-peraturan, perjanjian-perjanjian atau undang-undang. Undang-undang ini jika ditulis dinamakan tata-negara, jika tidak ditulis dinamakan aturan masyarakat. Undang-undang negara adalah perjanjian dalam hubungan antara warga negara, Undang-undang masyarakat ialah perjanjian dalam hubungan antara perseorangan. Sifat undang-undang atau hubungan Itu tergantung pada sikap jiwa orangnya. Bila jiwa orang yang berhubungan itu tenteram dan damai, maka hubungannya (masyarakat) pun tenteram dan damai. Tetapi bila orangnya gelisah, hubungannya (masyarakat) pun menggelisahkan. Jadi kalau undang-undang atau hubungan itu ibarat asapnya, orangnya adalah sebagai apinya. Maka bila usaha kita hanya menghilangkan asapnya, tanpa memadamkan apinya, usaha itu pasti akan sia-sia saja. Manusia kerapkali mengalami kesulitan-kesulitan yang berupa pertikaian. Tiap-tiap pertikaian selalu dipecahkan dengan undang-undang, tetapi tidak pernah berhasil. Demikian menurut sejarah, telah terjadi juga di negara kita Indonesia. Pada jaman Majapahit, timbul perselisihan yang mengobarkan perang saudara. Kesudahan dalam perang saudara itu, Majapahit kalah dan berdirilah kerajaan Demak, serta mengganti undang-undang negara. Apakah setelah diadakan undang-undang baru, lantas tidak timbul pertikaian lagi? Tidak, pertikaian berjalan terus, sehingga pecah perang saudara lagi. Perang itu berakhir dengan kerajaan Demak kalah, dan yang menang mendirikan kerajaan di Mataram. Kerajaan baru ini pun mengganti undang-undang lama dengan yang baru. Setelah ada undang-undang baru, apakah tiada perselisihan lagi? Tidak, perselisihan masih saja terjadi, dan mengobarkan perang saudara lagi, dengan kesudahan Mataram kalah. Kemudian datanglah penjajah Belanda, yang menamakan tanah air kita Hindia Belanda, dan mengadakan undang-undang baru. Apakah setelah undang-undang baru pertikaian lantas lenyap? Tidak, pertikaian tetap terjadi. Sampai pada tanggal 17 Agustus 1945, kita memberontak sehingga lenyaplah penjajah itu.

Dan lahirlah Republik Indonesia, dengan undang-undang baru yakni undang-undang berdasar Pancasila. Apakah setelah ada undang-undang tdak ada perselisihan? Saudara-saudara dapat membuktikan sendiri, bahwa perselisihan senantiasa ada saja. Jadi jelaslah bahwa kesulitan itu tidak dapat diselesaikan dengan undang-undang. Kita bangsa Indonesia dalam membangun negara Indonesia kerapkali salah, yaitu yang dibangun bukan negara Indonesia. Misalnya pada jaman Majapahit, terjadi pecah perang saudara yang berakhir runtuhnya kerajaan Majapahit. Keruntuhan Majapahit itu, tidak berarti meruntuhkan negara Indonesia. Maka negara Indonesia ini tidak dapat diketahui sejak kapan adanya. Catatan yang ada dan yang tertulis dibatu-batu pun tidak dapat mengungkapkan, sehingga orang tidak dapat menafsirkan kapan mulainya, dan akan berakhirnya negara Indonesia. Oleh karena demikian panjang usianya, maka dapat dikatakan negara Indonesia itu langgeng abadi. Membangun negara Indonesia yang abadi, tidak seperti kerajaan Majapahit yang tidak abadi. Keruntuhan kerajaan Majapahit, tidak berarti keruntuhan negara Indonesia, melainkan keruntuhan golongan pemimpin Majapahit, yang tindakannya sewenang-wenang. Begitu juga kehancuran kerajaan-kerajaan Demak, Mataram, pemerintah Hindia Belanda, tidak berarti kehancuran negara Indonesia, kecuaii kehancuran pemimpin-pemimpinnya yang bertindak sewenang-wenang. Jadi kerajaan Majapahit, Demak, Mataram, Hindia Belanda dan Republik Indonesia itu, bukanlah negara Indonesia yang abadi melainkan sebagai ombak negaranya. Ombak itu kerapkali mengalami pasang-surut. Tatkala kerajaan Majapahit sedang gilang-gemilang, ombak negara Indonesia mengalami pasang. Tetapi ketika kerajaan di atas runtuh, ombak negara Indonesia mengalami surut. Ombak yang pasang-surut itu, tidak mempengaruhi adanya negara Indonesia. Maka untuk membangun negara Indonesia, terlebih dahulu harus dilihat sebabnya pasang-surut ombak negara Indonesia. Keterangannya sebagai berikut. Setiap negara di mana saja, pada jaman apa saja, selalu dikuasai oleh segolongan warga negaranya, walaupun dalam undang-undang dasarnya, dinyatakan bahwa negara itu harus dikuasai oleh seluruh warganya, pada kenyataannya negara itu hanya dikuasai oleh segolongan warganya. Golongan yang menguasai itu ialah golongan terpelajar. Golongan terpelajar itu, ialah golongan yang mengerti undang-undang negara. Golongan terpelajar jaman dulu dan jaman sekarang tentu saja berbeda, tetapi pada dasarnya adalah sama, ialah yang mengerti undang-undang. Setiap golongan yang menguasai negara, pasti mabuk kekuasaan, dan mabuk kuasa ini pasti melahirkan perbuatan sewenang-wenang. Tindakan sewenang-wenang ini, selanjutnya membangkitkan pemberontakan, yang dapat menggulingkan pemerintahan yang ada. Bila kadang-kadang pemberontakan itu gagal, hal mana disebabkan belum matangnya tindakan sewenang-wenang itu. Misalnya pada jaman Majapahit ada pemberontakan yang gagal, yang dilakukan oleh Minakjinggo dan lain-lain. Kegagalan itu disebabkan perbuatan pemimpin-pemimpin Majapahit, yang sewenang-wenang itu, belum matang {belum cukup hebat). Tetapi setelah tindakan sewenang wenang dari pemimpin Majapahit matang, atau sudah sampai batas waktunya, pemberontakan yang timbul itu berhasil, dan mereka itu lalu mendirikan kerajaan Demak.

Demikianlah sejarah negara Indonesia, yang hanya berisi segolongan warganya berkuasa, mereka lantas mabuk, dan bertindak sewenang-wenang, yang mengundang pemberontakan. Sehingga kini belum mengalami kemajuan. Kalau kita hendak membangun negara Indonesia yang abadi, haruslah dicari jawaban atas pertanyaan, "Bagaimanakah caranya, orang berkuasa, tetapi tidak mabuk dan tidak bertindak sewenang-wenang". Kalau kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini, berarti kita tidak dapat membangun negara Indonesia yang abadi. Sehingga kini, belum ada suatu jaminan untuk menjamin orang yang berkuasa pasti tidak mabuk dan tidak bertindak sewenang-wenang. Yang ada hanyalah baru janji-janji, atau kesanggupan-kesanggupan dari golongan-golongan. Yaitu bila nanti golongannya berkuasa, negara ini hendak diaturnya begini-begitu. Jaminan satu-satunya agar supaya kita dalam memegang kekuasaan tidak akan mabuk dan tidak akan bertindak sewenang-wenang ialah bila kita yakin bahwa manakala kita berkuasa, pasti mabuk kekuasaan dan pasti berbuat sewenang-wenang. Karena biasanya, belum berkuasa saja, kita sudah merencanakan caranya, bagaimana kita akan mabuk dan sewenang-wenang.

Misalnya seorang tua yang giginya ompong, ia merencanakan mabuknya: "Nanti bila aku berkuasa, pasti kubeli gigi palsu." Jika kita mengerti bahwa diri-sendiri ini buas, ampuh, sewenang-wenang, rencana mabuk di atas dapat kita teliti sebagai berikut: "Aku hendak membeli gigi palsu ini untuk apa? Kalau hanya untuk menggigit uli saja, tidak usah pakai gigi pun dapat." Jelaslah gigi itu akan dipakai menggigit kulit yang masih ulet. Jadi untuk membangun negara Indonesia yang abadi itu, kita harus senantiasa mengawasi dan mengerti sifat diri-sendiri, yang galak, ampuh dan sewenang-wenang. Setiap detik langkah kita, tentu berasal dari rasa mabuk kuasa dan watak sewenang-wenang. Tetapi sifat mabuk dan sewenang-wenang itu, jika diteliti sedalam-dalamnya sehingga selesai, rasa itu tidak melahirkan perbuatan sewenang-wenang. Namun setelah penelitian tadi selesai, pada saat berikutnya tentu timbul rasa sewenang-wenang lagi. Dan jika diteliti lagi, segera selesai laqi. Jadi penelitian diri-sendiri itu hendaknya dilakukan setiap detik, pada setiap rasa yang timbul. Demikianlah caranya membangun negara Indonesia yang abadi. Melihat dan mengerti akan sifat-sifat diri-sendiri, yang sewenang-wenang itu, menimbulkan revolusi jiwa. Revolusi jiwa adalah perubahan jiwa, yang terjadi dalam diri kita sendiri, dan mengakibatkan perubahan sikap kita terhadap diri-sendiri dan orang lain. Melihat sifat kita sendiri yang galak, ampuh, sewenang-wenang, sama dengan setiap orang, maka kita tidak dapat melengahkannya barang sekejap saja. Karena kelengahan terhadap diri kita sendiri barang sedetik saja, cukuplah menyempatkan kita untuk mengganggu orang lain atau diri-sendiri. Jadi jika kita hendak membangun negara Indonesia yang abadi, kita harus senantiasa mengawasi diri kita sendiri, yang berwatak tetap sewenang-wenang.

Sumber : http://reocities.com/SouthBeach/Tidepool/1029/rb1.htm

Sebab dan Akibat





Sebab dan akibat merupakan kelanjutan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain yang berurutan dalam dimensi waktu. Peristiwa yang pertama disebut sebab, dan peristiwa berikutnya disebut akibat. Jadi peristiwa pertama dianggap menimbulkan peristiwa berikutnya. Misalnya cangkir jatuh lalu pecah. Jatuh dinamakan sebab, sedangkan pecah dinamakan akibat. Jadi si jatuh dianggap menimbulkan si pecah. Sebab dan akibat adalah sesuatu yang abstrak, artinya tidak dapat ditangkap oleh pancaindera. Yang dapat ditangkap oleh pancaindera adalah si jatuh dan si pencah. Jadi sebab dan akibat tidak terdapat dalam barang (benda), tetapi terdapat dalam pengertian atau rasa. Oleh karena yang dapat mengerti dan merasa adalah orang, maka sebab dan akibat terdapat dalam orang. Jadi sebab dan akibat adalah rasa orang yang menghubungkan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Jadi sebab dan akibat adalah tindakan orang yang menyatukan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Jika demikian sebab dan akibat merupakan satu hal tetapi wujudnya dua kejadian.

Agar lebih jelas diberikan contoh sebagai berikut: Misalnya buah mangga jatuh di tanah kemudian tumbuh jadi pohon mangga. Melihat kejadian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa di dalam buah mangga tersebut sudah ada benih pohon mangga. Jika di dalam buah mangga tidak ada benih pohon mangga, maka buah mangga tidak akan tumbuh menjadi pohon mangga. Pohon mangga jika sudah dewasa menghasilkan buah mangga. Melihat kejadian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa di dalam pohon mangga sudah ada benih buah mangga. Jika di dalam tidak ada benih buah mangga, pohon mangga tidak dapat berbuah mangga. Dalam peristiwa tersebut di atas terjadi peristiwa silih berganti antara buah mangga, pohon mangga, buah mangga, pohon mangga dan seterusnya. Apabila sebab dan akibat dikira dua hal akan timbul pertanyaan, "Manakah yang lebih dulu buah mangga atau pohon mangga?" Jika orang mengerti bahwa sebab dan akibat itu merupakan satu hal, maka dua kejadian tersebut, yaitu buah mangga dan pohon mangga merupakan dua wujud yang sebetulnya satu hal yaitu sebab dan akibat.

Jika sebab dan akibat dikira merupakan dua hal, orang akan bingung, sebab orang akan menjadi senang kepada akibatnya tetapi benci kepada sebabnya atau benci akibatnya tetapi senang akan sebabnya. Misalnya bab kaya. Kaya yang dimaksud di sini bukan karena mendapat undian uang banyak atau mendapat warisan banyak dari orang tua, tetapi dari hasil usaha sendiri. Kaya adalah akibat yang disebabkan oleh karena rajin dan hemat. Jika sebab dan akibat dikira merupakan dua hal, maka orang akan senang menjadi kaya tetapi benci kepada rajin dan hemat, atau mengejar kaya tetapi menghindari rajin dan hemat. Mengejar kaya tetapi menghindari rajin dan hemat adalah cita-cita yang tidak mungkin tercapai, sama halnya dengan kucing yang mengejar ekornya. Sama pula halnya dengan benci dan menghindari miskin, tetapi senang dan mengejar malas dan boros. Malahan malas dan boros itu menjadi cita-cita. Cita-cita malas itu dalam hatinya berkata, "Kalau aku kaya tidak akan bekerja." Rasa demikian itu adalah rasa miskin. Meskipun kerja keras, tetapi jika rasanya malas, orang hanya akan mengejar akibat, yaitu kaya dan merasa tidak senang kerja keras. Demikian pula jika boros menjadi cita-cita. Boros adalah kebalikan dari hemat. Hemat berarti memelihara barang-barang kebutuhan hidupnya dengan baik sedang boros berarti memelihara barang-barang kebutuhan hidupnya kurang baik. Rasa hemat disebabkan karena mengerti kebutuhan hidup. Meskipun kaya, orang sering tidak mengerti akan kebutuhan hidupnya sehingga salah menggunakan kekayaannya yaitu dipergunakan untuk mencari kehormatan dan kekuasaan. Jika barang-barang digunakan untuk kehormatan dan kekuasaan, orang tidak merasa cukup dan merasa miskin sebab orang akan berebutan barang-barang untuk kehormatan dan kekuasaan. Jadi apabila barang-barang digunakan untuk kebutuhan hidup, kebutuhan raga (jasmani), orang akan merasa cukup dan apabila digunakan untuk kebutuhan jiwa, kehormatan dan kekuasaan, tidak akan merasa cukup. Jadi rajin adalah rasa senang bekerja tanpa mengharapkan akibatnya, sebab orang sudah jelas akan akibatnya seperti seorang tukang kayu yang membuat meja dari kayu. Jika semua sarana dan pengetahuannya sudah siap, tukang kayu tersebut segera bekerja tidak mengharapkan akibatnya, sebab mengerti bahwa akibat dari perbuatannya, meja tersebut tentu akan jadi.

Jika mengerti bahwa sebab dan akibat merupakan satu hal, orang akan bebas dari rasa mengejar akibat, seperti halnya orang makan tidak mengejar kenyang, sebab sudah mengerti bahwa kenyang tentu akan terjadi jika makan banyak. Jadi kebebasan tersebut terjadi karena mengerti. Bebas dari rasa mengejar akibat, menyebabkan orang melihat rasa sendiri yang mengejar akibat dalam berbagai macam hal. Padahal rasa mengejar akibat tersebut menimbulkan perang batin. Oleh karena itu perang batin akan lenyap jika rasa mengejar akibat ketahuan sebelumnya. Orang ingin damai dan tidak bertengkar dengan orang lain. Jika tidak mengerti rasa bertengkar atau rasa damai dan jika tidak mengerti bahwa sebab dan akibat merupakan satu hal, orang akan mencari damai dengan cara kekerasan. Mencari damai dengan kekerasan inilah yang menyebabkan orang memaksa anaknya agar senang damai dengan cara dimarahi atau dipukul, atau orang yang ingin damai dengan orang lain dengan cara mengejek orang lain, atau golongan yang satu ingin damai dengan golongan yang lain dengan cara mengancam, atau bangsa yang ingin damai dengan bangsa lain dengan cara mengebom. Padahal memarahi, memukul, mengejek, mengancam ataupun mengebom adalah bertengkar, bukan damai. Demikianlah juga orang bertengkar dengan pendapatnya sendiri atau yang dinamakan perang batin.

Sumber : http://reocities.com/SouthBeach/Tidepool/1029/sda.htm