Jung Nusantara, Kapal Induk Masa Silam





Para penjelajah laut dari Nusantara diperkirakan sudah menjejakkan kaki mereka di Benua Afrika melalui Madagaskar sejak masa-masa awal tarikh Masehi. Jauh lebih awal daripada bangsa Eropa mengenal Afrika selain Gurun Sahara-nya dan jauh sebelum bangsa Arab dan Zhirazi dengan perahu dhow mereka menemukan kota-kota eksotis di Afrika, seperti Kilwa, Lamu, dan Zanzibar. Nusantara pada paruh pertama abad XVI, pelaut-pelaut negeri ini telah menguasai laut dan tampil sebagai penjelajah samudra. Antara abad ke-5 dan ke-7, kapal-kapal Nusantara mendominasi pelayaran dagang di Asia. Kronik China serta risalah-risalah musafir Arab dan Persia menorehkan catatan agung tentang tradisi besar kelautan nenek moyang bangsa Indonesia. Para penjelajah laut dan pengelana samudra inilah yang membentuk apa yang disebut Adrian B Lapian, ahli sejarah maritim pertama Indonesia, sebagai jaringan hubungan masyarakat bahari di Tanah Air.

Kapal Borobudur telah memainkan peran utama dalam segala hal dalam bahasa Jawa pelayaran, selama ratusan ratus tahun sebelum abad ke-13. Memasuki abad ke-8 awal, kapal Borobudur digeser oleh Jung besar Jawa, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Pelaut Portugis disebut juncos, pelaut Italia disebut zonchi. Kata “Jung” digunakan pertama kali dalam perjalanan biksu Odrico jurnal, Jonhan de Marignolli, dan Ibn Battuta berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14, mereka memuji kehebatan kapal Jawa raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dari karya kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku. Banyak pendapat menyebutkan, Istilah jung berasal dari kata chuan dari bahasa Mandarin yang berarti perahu. Hanya saja, perubahan pengucapan dari chuan menjadi jung nampaknya terlalu jauh. Yang lebih mendekati adalah “jong’ dalam bahasa Jawa dan beberapa berpendapat dari kata jungkung. Kata jong dapat ditemukan dalam sejumlah prasasti Jawa kuno abad ke 9. Undang-undang laut Melayu yang disusun pada abad ke-15 juga menggunakan kata jung untuk menyebut kapal pengangkut barang sedangkan Jung-jung China lebih banyak melayani angkutan sungai atau pantai ada dugaan teknologi kapal jung dipelajari bangsa China dari pelaut-pelaut Nusantara, bukan sebaliknya.

Jauh sebelum Cheng Ho dan Columbus membuat sejarah pelayaran mereka yang dikatakan fenomenal, para penjelajah laut Nusantara sudah melintasi sepertiga bola dunia. Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran, hingga abad VII kecil sekali peran kapal China dalam pelayaran laut lepas. Dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu menguasai lalu lintas pelayaran di ”Laut Selatan”. Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit 1645. Bahkan, pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 itu menyebutkan bahwa: “Orang Jawa sangat berpengalaman dalam seni navigasi. Mereka dianggap sebagai perintis seni paling kuno ini. Walaupun banyak yang menunjukkan bahwa orang Tionghoa lebih berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan dari mereka kepada orang Jawa.” Tatkala pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung Nusantara. Kapal dagang milik orang Nusantara ini menguasai jalur rempah rempah yang sangat vital, antara Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis menjadi kota orang Nusantara. Tomé Pires juga memberikan gambaran keadaan masing-masing pelabuhan tersebut (Cortesao, 1967: 170-173). Bantam merupakan pelabuhan besar terletak di tepi sungai. Dari pelabuhan ini perdagangan berlangsung hingga Sumatra dan Kepulauan Maladewa. Barang-barang yang diperdagangkan antara lain beras dan lada. Pomdam juga merupakan pelabuhan yang baik. Berada pada muara sungai. Kapal besar (junk) dapat berlabuh di sini. Barang dagangan berupa bahan makanan terutama beras dan lada. Cheguide merupakan pelabuhan bagus yang bisa didarati kapal besar.

Pelabuhan ini merupakan pintu gerbang ke Jawa dari Pariaman, Andalas, Tulangbawang, Sekampung dan tempat-tempat lain. Barang-barang dagangan berupa beras, buah-buahan, lada, dan bahan makanan. Tamgaram juga merupakan pelabuhan dan kota dagang yang bagus. Barang dagangan sebagaimana pelabuhan yang lain. Calapa merupakan bandar yang paling bagus. Pelabuhan ini sangat penting dan terbagus di antara yang lain. Jalinan perdagangannya sangat luas yaitu hingga Sumatra, Palembang, Laue, Tamjompura, Malaca, Makasar, Jawa dan Madura, serta beberapa tempat lain. Chemano merupakan pelabuhan yang cukup ramai meskipun kapal besar tidak dapat berlabuh di sini. Di kota ini sudah banyak warga muslim. Perdagangan yang dijalin dengan Chemano hingga seluruh Nusantara. Di sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jung yang menetap, dan sekaligus mengendalikan perdagangan internasional. Tukang-tukang kayu dari Nusantara yang terampil membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu. Bukti kepiawaian orang Nusantara dalam bidang perkapalan juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik – belakangan disebut sebagai “Kapal Borobudur”.

Jung pada abad ke-15 hingga ke-16 tidak hanya digunakan para pelaut Nusantara. Para pelaut Tionghoa juga menggunakan kapal layar jenis ini. Jung memegang peranan penting dalam perdagangan Asia Tenggara masa lampau. Ia menyatukan jalur perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa (ujung selatan Vietnam) , Ayutthaya (Thailand), Aceh, Malaka dan Makassar. Hanya saja, keadaan itu berbanding terbalik menjelang akhir abad ke-17, ketika perang Jawa tidak bisa lagi membawa hasil bumi dengan jungnya ke pelbagai penjuru dunia. Bahkan, orang Jawa sudah tidak lagi punya galangan kapal. Kantor Maskapai Perdagangan Hindia-Belanda (VOC) di Batavia melaporkan pada 1677 bahwa orang-orang Mataram di Jawa Tengah tidak lagi memiliki kapal-kapal besar. Para sejarawan menyimpulkan, jung dan tradisi besar maritim Nusantara hancur akibat ekspansi militer-perniagaan Belanda. Serta, sikap represif Sultan Agung dari Mataram terhadap kota kota pesisir utara Jawa. Lebih celaka lagi, raja-raja Mataram pengganti Sultan Agung bersikap anti perniagaan. Apa boleh buat, kejayaan jung Nusantara hanya tinggal kenangan. Akan tetapi, pada abad XVIII masyarakat Nusantara dengan budaya maritimnya yang kental itu mengalami kemunduran. Monopoli perdagangan dan pelayaran yang diberlakukan pemerintahan kolonial Belanda, walau tidak mematikan, sangat membatasi ruang gerak kapal-kapal pelaut Indonesia.



Konstruksi kapal jung
Konstruksi perahu bercadik sangat unik. Lambung perahu dibentuk sebagai menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat. Kapal Jawa jelas berbeda dengan kapal Tiongkok yang lambungnya dikencangkan dengan bilah-bilah kayu dan paku besi. Selain itu kapal Tiongkok memiliki kemudi tunggal yang dipasang pada palang rusuk buritan. Gambaran tentang jung Nusantara secara spesifik dilaporkan Alfonso de Albuquerque, komandan armada Portugis yang menduduki Malaka pada 1511. Orang Portugis mengenali Nusantara sebagai asal usul jung-jung terbesar. Kapal jenis ini digunakan angkatan laut kerajaan Jawa (Demak) untuk menyerang armada Portugis. Pelaut Portugis Tom Pires dalam Summa Orientel (1515) mengatakan bahwa “Anunciada (kapal Portugis yang terbesar yang berada di Malaka pada tahun 1511) sama sekali tidak menyerupai sebuah kapal bila disandingkan dengan Jung Nusantara. ” Disebutkan, jung Nusantara memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis.

Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Nusantara untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513. Bisak dikatakan, kapal jung Nusantara ini disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini. Lihatlah betapa hebatnya Bangsa Indonesia ini. Sekarang banyak media yang hanya memperlihatkan kejelekan-kejelekan negara kita. Mungkin terkadang kejelekan itu datang dari diri bangsa kita juga. Tetapi di samping itu kita juga harus melihat kehebatan bangsa kita sehingga kita dapat berpikir positif dan mampu melangkah ke depan untuk bangsa yang lebih baik. Seharusnya pemerintah lebih banyak mempublikasikan hal-hal seperti ini terutama sejarah tentang kehebatan dan kejayaan bangsa sehingga akan membuat generasi muda kita bangga menjadi warga negara indonesia.

Sumber : www.wacananusantara.org


Sendang Kasihan






Letak Sendang Kasihan secara administratif terletak di Dusun Kasihan, Kalurahan Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Tepatnya berada sekitar 1,5 km di sebelah barat pabrik gula Madukismo. Lokasi ini dapat dijangkau dari perempatan Kasihan (ring road selatan) lurus ke selatan kurang lebih 1 kilometeran.

Kondisi Fisik
Pada saat sekarang Sendang Kasihan telah dilingkungi pagar luar setinggi kurang lebih 2 meteran. Pada dinding sebelah barat terdapat pintu utama dengan tinggi sekitar 1,5 meter dan lebar 80-an Cm. Di samping itu, sendang ini juga dilengkapi dengan kamar mandi untuk pembilasan sebanyak 3 buah pada sisi sebelah utara dan sebuah di sebelah selatan. Pada sisi tenggara sendang juga terdapat bangunan rumah tinggal. Rumah tinggal ini digunakan sebagai hunian bagi penjaga sendang. Dinding sendang telah ditembok dan diberi pintu air di sisi timur. Pintu air ini digunakan untuk mengatur volume air dan untuk pengurasan. Sendang ini juga memiliki pagar dalam yang melingkari seluruh sisi tepian sendang. Ketinggian pagar sisi dalam ini sekitar 1 meteran. Seluruh tembok pagar luar dan dalam serta kamar mandi dicat dengan warna putih. Pada bagian barat sendang terdapat dua buah arca batu yang diletakkan berjajar dengan arah hadap ke selatan. Satu buah arca di sisi barat tampak tidak lengkap. Arca pada sisi ini telah patah bagian hidung (belalainya). Menilik ciri-ciri fisiknya arca di sebelah barat merupakan arca Ganesha. Sedangkan arca di sebelah timur adalah arca Agastya. Tinggi masih-masing arca sekitar 50 Cm. Ketebalan arca sekitar 15 Cm. Sendang Kasihan ini memiliki keistimewaan karena airnya tidak pernah kering. Mata air yang muncul dari dalam tanah pun bening. Sendang ini bila diamati dari timur akan tampak gambaran keseluruhannya seperti pohon beringin. Akan tetapi jika diamati dari arah barat maka akan tampak gambaran seperti sebentuk kendi.

Legenda
Menurut sumber setempat timbulnya sumber air yang kemudian menjadi Sendang Kasihan ini konon oleh karena tuah tongkat milik Sunan Kalijaga. Diceritakan bahwa dalam pengembaraannya waktu itu Sunan Kalijaga tiba di daerah Kasihan. Di daerah ini ia membutuhkan air yang bersih. Oleh karena ia tidak mendapatkan sumber air yang dimaksud, ia pun menancapkan tongkatnya ke atas tanah. Setelah tongkat itu dicabut, maka keluarlah sumber mata air yang jernih dan kemudian terkumpul dalam cekungan dan kemudian terkenal dengan nama Sendang Kasihan. Menurut cerita tutur setempat Sendang Kasihan ada kaitan erat dengan cerita Rara Pembayun (putra Panembahan Senapati). Konon sebelum masuk ke wilayah Mangir, Rara Pembayun bersama pengiringnya mandi dan mencuci muka di sendang ini. Proses penyucian diri di sendang ini konon memberi dampak bagi kencantikan Rara Pembayun. Air sendang ini membuat wajah dan tubuh tampak lebih muda, bersinar, dan menimbulkan daya pikat yang luar biasa. Oleh karena itu Sendang Kasihan ini sering disebut juga dengan nama Sendang Pengasihan.

Sumber: Wawancara dengan Bp. MW. Broto Sumantri (77 tahun), pemilik Sendang Kasihan. wawancara dilakukan hari Minggu, tanggal 27 Oktober 2003 (16.10-16.48 WIB)
Oleh : Sartono Kusumaningrat (http://www.tembi.org/situs-prev/s_kasihan.htm)

Filsafat Rasa Hidup





Ceramah Ki Ageng Suryomentaram ini disampaikan beliau dalam pertemuan Junggring Salaka Agung ke IX di Semarang. pada tahun 1956

Filsafat ialah pengetahuan tentang segala apa yang ada. Filsafat memberi jawaban atas pertanyaan "Apakah hakikatnya segala yang ada di atas bumi dan di kolong langit?" Segala apa yang ada ini dapat dibagi dua bagian, yaitu benda hidup dan benda tidak hidup. Benda tidak hidup berupa cangkir, piring, meja, kursi, batu dan sebagainya. Benda hidup berupa tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia. Jadi segala apa yang ada hanya terdiri dari benda hidup dan benda tidak hidup, selain itu tidak ada. Benda tidak hidup tidak bergerak, kecuali bila digerakkan oleh benda lain. Sedangkan benda hidup bergerak walaupun tidak digerakkan oleh benda lain. Dengan demikian maka hidup itu bersifat gerak pribadi (dapat bergerak sendiri). Gerak dan diam ialah sifat laku (bhs. Jawa: lelampahan). Diam ialah tetap pada tempatnya, dan bergerak ialah berpindah tempat, walaupun yang bergerak hanya bagian benda itu. Jadi hidup itu bersifat gerak. Yang bergerak ialah satu persatu benda jadi. Wujud satuan benda jadi ialah hewan, manusia, meja, kursi dan sebagainya. Wujud manusia sebagai benda disebut badan (raga). Raga manusia senantiasa dapat bergerak sendiri. Kalau raga itu tidak dapat lagi bergerak sendiri, maka raga itu disebut mati. Jadi mati ialah tidak lagi dapat bergerak sendiri. Kalau kita mengerti bahwa hidup ialah laku, maka orang bebas dari anggapan bahwa hidup ialah benda. Anggapan bahwa hidup itu benda, menimbulkan persoalan yang berupa pertanyaan sebagai berikut, "Bila orang telah meninggal, maka akan ke manakah hidupnya?". Teranglah pertanyaan ini menanyakan tempat benda, yaitu si hidup yang dianggapnya benda. Yang memerlukan tempat ialah benda, tetapi gerak tidak memerlukan tempat. Misalnya duduk ialah suatu gerak, dan oleh karena itu tidak memerlukan tempat. Yang membutuhkan tempat ialah raga yang duduk; seperti halnya si Dadap duduk di kursi. Jadi yang memerlukan tempat di kursi ialah raga si Dadap. Laku dapat dibagi-bagi menurut artinya. Bagian-bagian laku merupakan rentetan kejadian yang saling kait-mengait dalam hubungan sebab dan akibat, yang berlangsung di dalam waktu (jaman). Maka laku memakan waktu. Benda hidup dapat dibagi menjadi tiga golongan, yakni tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Benda hidup yang dinamakan manusia, ia merasa hidup. Jadi manusia mempunyai rasa hidup. Rasa hidup inilah yang mendorong manusia bergerak. Di sini perlu diselingi keterangan, bahwa tindakan manusia itu terdorong oleh perasaannya. Orang mencari minum karena terdorong oleh rasa haus, dan orang ingin tidur karena terdorong oleh rasa kantuk. Bahkan bukan saja gerak manusia, tetapi gerak semua benda hidup, tumbuh-tumbuhan atau hewan, juga didorong oleh rasa hidup.

Karena gerak benda hidup terdorong oleh rasa hidup, maka maksud gerak semua benda hidup ialah supaya hidupnya berlangsung terus. Maka rasa hidup menolak kematian. Sebagai contoh, misalnya pohon mangga itu bergerak, dan akar-akarnya masuk ke dalam tanah mencari makanan, tentu dengan maksud agar hidupnya berlangsung walaupun tidak disadari. Setelah besar (dewasa) pohon mangga itu tidak berhenti di situ saja, tetapi tentu akan berbunga, dan bunga ini menjadi putik yang kemudian menjadi buah. Buah mangga itu setelah masak akan jatuh di tanah, yang kemudian tumbuh menjadi pohon mangga lain lagi. Maka bila pohon yang tua mati, yang muda akan menggantikan hidupnya. Keadaan seperti di atas yang melangsungkan jenis pohon mangga, karena pohon muda itu pun bila sudah dewasa akan berbuah, dan demikian seterusnya. Jadi selain melangsungkan hidupnya, gerakan pohon mangga itu pun melangsungkan jenisnya. Di sini jelaslah bahwa gerak pohon mempunyai dua macam maksud, yakni agar dapat melangsungkan hidupnya dan melangsungkan jenisnya. Demikian juga maksud gerak hewan dan manusia. Maka maksud gerak bagi pohon, hewan dan manusia ialah sama, yaitu supaya dapat melangsungkan hidup dan jenisnya. Gerak manusia yang ditujukan untuk melangsungkan hidupnya seperti makan, berpakaian, bertempat tinggal (bhs. Jawa: pangan, sandang, papan) disebut memenuhi kebutuhan hidup (bhs. Jawa: pangupa jiwa). Bila tidak makan, manusia akan menjadi sakit, dan kemudian mati. Maka makan ialah kebutuhan hidup. Kegunaan pakaian ialah untuk melindungi badan dari hawa panas atau dingin. Karena bila terserang panas atau dingin yang hebat, badan menjadi sakit, dan kemudian mati. Maka pakaian merupakan kebutuhan hidup. Kegunaan tempat tinggal ialah untuk beristirahat atau tidur. Bila tidak tidur orang menjadi sakit, dan kemudian mati.

Maka tempat tinggal atau perumahan merupakan kebutuhan hidup. Gerak manusia yang ditujukan untuk melangsungkan jenisnya berupa perkawinan. Bila tidak kawin, orang tidak dapat beranak-cucu, hingga habislah jenis manusia. Maka perkawinan merupakan kebutuhan hidup. Demikianlah, "pangupa jiwa" dan perkawinan menjadi kebutuhan hidup. Bila kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi maka orang akan mati atau tidak akan berketurunan. Oleh karena itu, bila kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi, orang merasa senang dan bila tidak, orang merasa susah. Maka rasa hidup ini menimbulkan takut mati dan takut tidak berketurunan, dan mendorongnya untuk menghindari apa yang dapat menyebabkan ia mati atau tidak mempunyai keturunan. Penyakit, kelaparan, ketelanjangan, tidak bertempat tinggal dan sebagainya, merupakan sebab kematian. Yang menyebabkan tidak berketurunan, ialah tidak dapat jodoh, perceraian, mandul, dan sebagainya. Jadi takut mati dan takut tidak mempunyai keturunan, menurut rasa hidup ialah wajar. Bila jiwa mengalami kelainan, sering orang melakukan pantang makan, pantang tidur, pantang istri/suami dan sebagainya. Kelainan jiwa ini disebabkan karena keinginan memperoleh keunggulan dalam suatu hal (bhs. Jawa: linangkung) atau karunia dari Yang Mahakuasa.

Menolak kebutuhan hidup demikian itu tidak wajar. Menolak kebutuhan hidup menimbulkan perang batin. Padahal perang batin mengakibatkan penderitaan. Maka menolak kebutuhan hidup berarti mengalami penderitaan jiwa (bhs. Jawa: cilaka). Bagaimanakah perang batin itu timbul? Seseorang yang pantang makan tentu akan merasa lapar. Di situ rasa ingin makan bertentangan dengan rasa pantang makan, maka terjadilah perang batin. Dalam perang batin kadang-kadang diri sendiri menjadi "yang ingin makan", dan kadang-kadang menjadi "yang pantang makan". Ketika menjadi "yang ingin makan", rasanya "aku ingin makan". Ketika menjadi "yang pantang makan", rasanya "aku pantang makan". Akulah yang menguasai nafsuku, dan yang ingin makan ialah godaan. Seolah-olah dirinya sendiri pecah menjadi dua. Demikian kebingungan seorang bila timbul perang batin, sehingga sangat sukar untuk mengatakan yang manakah dirinya sendiri. Apabila orang menyadari kelainan dalam jiwanya, yang berupa keinginannya memperoleh keunggulan atau karunia, perang batin itu sirna. Lenyapnya perang batin, membangunkan rasa tenteram.

Kebudayaan
Semua gerak tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, didorong oleh rasa hidup dengan maksud yang sama, yakni supaya berlangsung hidupnya dan jenisnya. Tetapi cara manusia bergerak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya berbeda dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Cara bergerak tumbuh-tumbuhan dan hewan berlangsung tanpa pengertian, karena mereka tidak memiliki pikiran. Sedangkan cara bergerak manusia berlandaskan pengertian, sebab manusia memiliki pikiran. Jadi perbedaan antara manusia dan benda hidup yang bukan manusia, hanya terletak pada kenyataan, bahwa yang satu mempunyai pikiran, sedang yang lain tidak mempunyainya. Jika seseorang memakai pikirannya untuk berpikir, maka ia akan mendapat pengertian. Jumlah pelbagai pengertiannya ini merupakan ilmu. Maka tindakan manusia untuk mencukupi kebutuhan hidupnya perlu berlandaskan ilmu, karena tanpa ilmu ia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Benda hidup lain, kecuali manusia, dapat bertindak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa ilmu. Misalnya telur itik yang menetas langsung menjadi anak itik. Anak itik itu walaupun baru sehari umurnya, bila terjun ke air sudah pandai berenang. Sedang manusia yang belajar berenang dalam tiga bulan lamanya, masih kalah pandainya dari anak itik.

Dalam usahanya mencari makanan, anak itik tidak pernah mendapat didikan dari induknya, namun ia tidak pernah salah menelan pecahan kaca. Demikianlah tindakan hewan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dapat terlaksana tanpa pengertian. Sebaliknya bayi berusia satu tahun, bila tidak dijaga oleh pengasuhnya sering menelan batu kerikil, karena ia tidak mengerti. Tetapi karena bayi itu anak manusia, seharusnyalah ia mengerti. Maka supaya tidak bertindak keliru bayi itu perlu diawasi oleh pengasuhnya. Karena itu manusia memerlukan pendidikan. Jadi tindakan hewan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya tidak bisa keliru. Seekor kucing tidak pernah keliru menerkam ketimun, sedang manusia bisa salah menelan asap tembakau. Kambing tidak pernah menggantung diri, tetapi manusia acapkali menggantung diri. Hewan tidak pernah menyimpang dari maksud tujuan gerak hidup, tetapi manusia bisa menyimpang dari maksud tujuan gerak hidup. Dari itu bila manusia bertindak tanpa ilmu pengetahuan, maksud tujuan tindakannya tidak akan tercapai. Umpamanya orang menanak nasi, bila tanpa pengetahuan, berasnya tidak bisa menjadi nasi. Bagi manusia, ilmu pengetahuan ialah syarat mutlak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Dalam masyarakat terdapat banyak ilmu pengetahuan guna mencukupi kebutuhan masyarakat dan perorangan. Macam-macam ilmu itu ialah ilmu pertanian, peternakan, pertukangan, sosial, ekonomi, perkawinan, politik, filsafat, ilmu jiwa dan sebagainya. Jumlah semua ilmu yang ada di masyarakat itu dinamakan kebudayaan. Dengan semua ilmu itu, lahirlah barang-barang buatan manusia, sebagai alat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Karena pikiran bila diolah bisa mengalami kemajuan, maka cara manusia untuk mewujudkan barang-barang bisa mengalami kemajuan juga. Dalam usaha memenuhi kebutuhan makan, manusia mula-mula mengambil hasil hutan dan memburu hewan, kemudian maju dengan bercocok tanam dan memelihara ternak. Demikian pula dalam hal pakaian, dari hanya memakai kulit kayu atau kulit hewan yang diikatkan pada badannya, kemudian maju memintal benang dan menenun kain. Dalam hal tempat tinggal, dari hanya berdiam di gua, kemudian maju membuat rumah bambu, rumah kayu, rumah gedung dan seterusnya. Sebaliknya karena hewan tidak mempunyai pikiran, maka alat-alatnya tidak mengalami kemajuan. Misalnya pembuatan sarang burung tempua (manyar). Walaupun sarang itu indah mungil, tetapi seratus tahun yang lampau dan seratus tahun yang akan datang, sarang itu tetap serupa. Ada sejenis hewan yang dianggap lebih maju dari jenis lainnya, tetapi karena alat-alat jenis hewan ini pun tidak mengalami kemajuan, maka apa yang dihasilkan oleh hewan ini tiada pula mengalami kemajuan. Ada lagi perbedaan antara manusia dan hewan, yakni dalam bidang kesenian.

Manusia membutuhkan keindahan yang dirasakan melalui pancainderanya. Kebutuhan tadi diwujudkan dalam bentuk barang yang dapat memenuhi kebutuhan jiwa melalui pancaindera. Barang itu berwujud pelbagai macam seni rupa, seni bangunan, seni gerak dan seni tari yang indah, seni suara, dan macam-macam seni lainnya yang dapat dinikmati melalui hidung, lidah dan alat peraba. Ada lagi perbedaan antara manusia dan hewan dalam hal rasa, yang disebabkan ada dan tidak adanya pikiran. Hewan hanya mempunyai rasa senang dan susah, tetapi tidak mempunyai rasa bahagia dan derita. Sedang manusia, selain mempunyai senang dan susah, juga mempunyai rasa bahagia dan derita. Karena manusia mempunyai pikiran, maka ia mempunyai cita-cita. Bahagia bila cita-citanya tercapai dan derita bila cita-citanya tidak tercapai. Cita-cita inilah yang dapat menyelewengkan tindakannya dari tujuan hidup, yaitu kelangsungan hidup pribadinya dan jenisnya. Bila cita-citanya gagal, orang sering bersikap nekad, bahkan bersedia untuk bunuh diri, Ini jelas bertentangan dengan tujuan hidup. Jadi cita-cita itu menyebabkan orang tergelincir dari rel tujuan hidup. Apabila orang mencita-citakan sesuatu, tetapi tidak mengerti cara bagaimana mencapainya, sering ia berpantang tidur atau berpantang hubungan istri/suami.

Padahal semua yang dipantangnya merupakan kebutuhan hidup. Maka pantangan tadi ialah tindakan menyimpang dari jalan tujuan hidup. Dalam masyarakat terdapat banyak macam ilmu untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jumlah ilmu itu dinamakan kebudayaan. Jadi dalam masyarakat terdapat kebudayaan. Masyarakat dunia terdiri dari bangsa-bangsa. Bangsa-bangsa itu mendiami tanah yang berbeda-beda keadaannya, ada tanah datar dan ada tanah pegunungan; ada yang hawanya dingin dan ada yang panas. Karena itu, alat-alat untuk mencukupi kebutuhan hidup pun berbeda bagi masing-masing bangsa. Perbedaan alat-alat itulah yang menyebabkan corak kebudayaan masing-masing bangsa berbeda-beda pula. Perbedaan corak kebudayaan ini sering dipakai sebagai senjata untuk saling mengejek. Ejek-mengejek ini kerap kali menimbulkan peperangan. Jadi tiap-tiap bangsa, masing-masing mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda. Ada yang terbelakang dan ada yang maju. Pada umumnya, terbelakang atau majunya kebudayaan suatu bangsa, digunakan sebagai ukuran bagi rendah atau tingginya derajat bangsa itu. Maka bangsa yang tinggi kebudayaannya, dianggap tinggi derajatnya. Bagian-bagian kebudayaan suatu bangsa, ada yang terbelakang dan ada yang sudah maju. Suatu bangsa, yang cara menggarap sawahnya dengan bajak ditarik hewan, dianggap lebih rendah daripada bangsa lain yang cara menggarap sawahnya dengan mesin. Jadi bajak ditarik hewan, dianggap lebih rendah dari mesin, dalam arti kebudayaan. Bangsa yang bagian kebudayaannya rendah, dapat belajar dari bangsa lain. Sedang bangsa yang bagian kebudayaannya tinggi, dapat menyumbang pada bangsa lain. Demikianlah bangsa-bangsa dapat saling memperoleh faedah dalam kebudayaan, dan ini memungkinkan terwujudnya kesejahteraan bersama lahir dan batin.

Masyarakat
Ada dua cara hidup hewan, yang satu menyendiri seperti tokek, gangsir (semacam cengkerik), dan yang lain berkelompok seperti lebah dan sebagainya. Cara hidup demikian sesuai dengan hukum alam, karenanya tidak dapat diubah. Lebah jika dipisahkan pasti mati. Sebaliknya gangsir, jika dikelompokkan pasti mati. Sebab dalam kelompok, gangsir selalu berkelahi. Maka bila diubah cara hidupnya, hewan tersebut tidak dapat melangsungkan hidup pribadinya dan jenisnya. Manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi serupa dengan jenis lebah. Dalam kelompok, orang saling memberi dan mengambil kefaedahan masing-masing. Tindakan tersebut dinamakan gotong royong atau kemasyarakatan. Adapun cara bertindak untuk saling memberi dan mengambil faedah masing-masing ialah sebagai berikut: Misalnya tukang besi, pekerjaannya tidak lain hanya memukuli besi.

Namun ia makan nasi walaupun tidak menanam padi. Ini hanya mungkin karena adanya saling memberi dan mengambil faedah masing-masing, antara pak tani dan si tukang besi. Tukang besi memperoleh padi dari pak tani dan pak tani memperoleh pacul dari tukang besi. Saling memperoleh kefaedahan di atas, memungkinkan masing-masing pihak merasa cukup dan enak. Ada contoh lain yang lebih jelas lagi. Misalnya ada nasi sepiring, orang bertanya, "Siapakah yang mengadakannya?" Bila dijawab bahwa pak tanilah yang mengadakannya karena ia yang menanam padi, maka jawaban itu kurang tepat; karena pak tani tidak dapat menanam padi tanpa pacul, garu dan bajak. Bajak dibuat oleh tukang kayu. Karena itu tukang kayu pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Bajak tanpa mata-bajak tidak dapat dipakai. Karena mata-bajak dari besi itu dibuat oleh tukang besi, maka tukang besi pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Apabila pembagian aliran air untuk sawah tidak teratur, maka padi tidak akan tumbuh. Karena itu, pengatur (bhs. Jawa: ulu-ulu) aliran air pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Apabila di antara petani timbul perselisihan dan tidak ada yang mendamaikan, maka mereka tidak sempat menanam padi. Dalam perselisihan itu jaksalah yang mendamaikan mereka. Ini berarti, jaksa pun turut mengadakan sepiring nasi itu.

Apabila tidak diatur pamong praja, pak tani akan saling berebut batas dan pematang (bhs. Jawa: galengan), sehingga pak tani tidak sempat menanam padi. Jadi pamong-praja pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Demikian pula halnya dengan polisi dan tentara yang menjaga keamanan dan pertahanan, mereka pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Dengan demikian maka pekerjaan masing-masing orang itu saling berhubungan sehingga setiap orang berhubungan dengan semua orang. Hubungan semacam itu disebut masyarakat. Agar hidup manusia dapat berlangsung, caranya ialah dengan jalan bermasyarakat. Bila hidup menyendiri, yakni tanpa berhubungan dengan orang lain, orang tentu mati, karena tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Jadi hidup ialah berhubungan. Apabila menyendiri, orang ingin memakai celana saja tidak mungkin, karena ia harus menanam kapas sendiri, memberantas hama kapas sendiri, memintal dan membuat alat pintal sendiri, membuat paku, menenun dan membuat alat tenun sendiri, yang kesemuanya itu tentu tidak mungkin. Jadi, nilai pekerjaan setiap orang bagi masyarakat ialah sama. Pekerjaan memotong rumput dan membikin arang, pekerjaan sebagai polisi, tentara atau pamong praja, sama nilainya bagi masyarakat. Karena bila salah satu macam pekerjaan tidak lagi berhubungan dengan masyarakat, maka roda masyarakat tidak dapat berputar secara beres.

Andaikata tidak ada orang membuat arang, tukang besi tidak akan dapat membuat pacul, pak tani tidak dapat menanam padi, dan semua orang kelaparan. Demikian halnya dengan lokomotif, yang tidak akan dapat berjalan bila dicabut sebuah sekrupnya. Demikianlah ketergantungan satu orang dengan yang lain. Apabila seseorang mengerti bahwa kelangsungan hidupnya tergantung pada masyarakat, maka orang akan mengerti bahwa apabila ia mengganggu orang lain, ia akan mengganggu masyarakat. Mengganggu masyarakat berarti pula mengganggu diri sendiri. Jadi mengganggu orang lain sama dengan mengganggu diri sendiri. Jadi jelaslah bahwa masyarakat ialah diri sendiri. Karena itu, membangun masyarakat ialah membangun diri sendiri, dan membangun diri sendiri ialah membangun masyarakat. Kesadaran akan inilah yang disebut rasa bersatu dengan masyarakat.

Pergaulan
Cara hidup berkelompok ini mengharuskan orang bergaul dengan orang lain. Selain bergaul dengan orang lain, orang pun bergaul dengan benda-benda. Maka dalam pergaulan itu orang bergaul dengan orang lain dan dengan benda-benda. Karena orang memiliki pikiran, ia akan merasa enak dalam pergaulan bila ia mengerti sifat dari pihak yang diajak bergaul. Bila ia mengerti sifat-sifat dari sesuatu yang dihubunginya, ia akan merasa enak, karena tindakannya benar. Tetapi bila ia tidak mengerti sifat tersebut, ia akan merasa tidak enak karena tindakannya yang salah. Jadi rasa enak atau tidak enak, dalam hubungan ini hanyalah berpangkal pada persoalan mengerti atau tidak mengerti. Misalnya, bila orang mengerti sifat api, ia akan merasa enak dan bebas berhubungan dengan api, karena ia dapat bertindak benar. Bila tidak disengaja, ia tiba-tiba memegang api sehingga terbakar tangannya, orang pun merasa enak. Rasa enak di sini tidak berarti enak terbakar.

Rasa terbakar tentu saja sakit. Tetapi enak di sini berarti rasa tidak menyalahkan api. Jadi mengerti itu menimbulkan rasa merdeka. Manusia hanya dapat menguasai benda-benda yang ia ketahui dan mengerti sifat-sifatnya. Dengan mengerti angin berikut sifat-sifatnya, orang dapat mempergunakannya untuk menjalankan perahu layarnya, dan sebagainya. Oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa jenis manusia itu merajai dunia. Begitu juga dalam hubungan dengan orang lain, orang akan merasa enak bila ia mengerti sifat orang lain itu. Untuk mengerti orang lain, lebih dulu. ia harus dapat menjawab pertanyaan, "Manusia itu apa?" Manusia ialah benda hidup yang mempunyai rasa. Rasa ini penting sekali bagi manusia, dan benda-benda hanyalah untuk mengenakkan rasanya. Maka rasa itu ialah hakikat manusia. Bila ada sesosok tubuh dengan kepala, badan, tangan, kaki, telinga, hidung, dan lain-lain, tetapi tanpa rasa, maka itu bukan manusia lagi melainkan mayat. Walaupun manusia memiliki banyak macam rasa, namun pada umumnya rasa itu dapat dibagi atas dua macam yang pokok, yakni rasa enak dan tidak enak. Supaya enak dalam hubungan dengan orang lain, orang perlu mengetahui rasa orang lain. Karena manusia selain berhubungan dengan benda juga berhubungan dengan rasa, maka bila ia tidak mengerti rasa orang lain, ia tidak akan merasa enak dalam pergaulan hidup. Hubungan yang tidak enak ini berupa perselisihan. Perselisihan secara berkelompok akan menyebabkan perang. Jadi tidak mengerti rasa orang lain ini menyebabkan perang. Cara perang itu bermacam-macam, tembak-menembak, maki-memaki, ejek mengejek, saling membusukkan dan saling berprasangka buruk. Maka perang itu tidak hanya tembak-menembak. Sebelum pecah perang, terlebih dulu orang saling memaki, saling mengejek, saling membusukkan dan saling berprasangka buruk. Jadi perang ialah perkembangan prasangka buruk.

Dalam hal rasa, tembak-menembak dan saling berprasangka buruk itu sama. Jadi saling berprasangka buruk sama dengan tembak-menembak. Demikian macam-macam peperangan atau perselisihan. Perang itu mutlak keliru dan jahat. Menang atau kalah, perang tetap keliru dan jahat, karena manusia perlu melangsungkan hidupnya, sedangkan perang yang berwujud tembak-menembak berarti bunuh-membunuh. Maka perang bertentangan dan berdosa terhadap rasa hidup. Bila diselidiki dalam rasa kita sendiri, dapat ditemukan bahwa orang hidup tidak menginginkan perang. Meskipun demikian, toh terjadi juga perang. Maka perang itu timbul dari kebodohan, yang menyebabkan tidak terlaksananya tujuan hidup. Kecuali berdosa terhadap rasa hidup, perang juga berdosa terhadap pergaulan. Tujuan pergaulan ialah untuk dapat merasakan enak bersama, tetapi perang menimbulkan rasa tidak enak bersama. Maka perang berdosa pada rasa hidup dan pergaulan. Perang atau perselisihan itu disebabkan karena orang tidak mengerti rasa orang lain dalam pergaulan. Bila orang mengerti rasa orang lain, perselisihan atau perang akan lenyap. Jadi memberantas perang atau perselisihan harus dengan mengetahui atau mengerti rasa orang lain. Untuk mengetahui dan mengerti rasa orang lain, rasa diri sendirilah yang menghalang-halangi. Bila rasa diri sendiri yang menghalang-halangi itu tidak diketahui, orang tidak mungkin mengetahui rasa orang lain. Jadi supaya bisa mengetahui rasa orang lain, terlebih dulu orang harus mengetahui rasa diri sendiri yang menghalanginya untuk mengetahui rasa orang lain. Mengetahui rasa diri sendiri ini dinamakan pengetahuan atau pengertian pribadi (bhs. Jawa: pangawikan pribadi). Pribadi atau diri sendiri di sini, dimaksud bukan pribadi yang muluk-muluk, tetapi pribadi/diri sendiri yang merasa apa-apa, menginginkan apa-apa, dan berpikir apa-apa. Jadi memberantas perang atau perselisihan harus dengan pengetahuan/pengertian diri sendiri.

Pengetahuan Diri Sendiri
Orang baru dapat mengenal diri sendiri setelah berhubungan dengan benda-benda, orang lain dan gagasannya, atau dengan rasanya sendiri. Orang hidup tentu berhubungan dengan sesuatu, karena dalam hubungan itu ia baru merasa bahwa ia ada. Rasa ada ini senantiasa merasakan segala apa yang ada. Maka rasa ada itu boleh dikatakan sama dengan hubungan atau bergaul. Pergaulan itu pasti mencakup diri sendiri dan apa yang bukan diri sendiri. Setiap tindakan, setiap kata dan setiap keinginan, tentu berhubungan dengan sesuatu; yang mencakup diri sendiri dan apa yang bukan diri sendiri. Dalam tindakan, ucapan dan keinginan sendiri inilah orang dapat mengetahui diri sendiri. Mengenal diri sendiri itu sulit, karena orang tidak biasa berusaha mengenal diri sendiri.

Orang hanya biasa merasakan diri orang lain. Bila orang bertengkar dengan istrinya, biasanya ia hanya menyalahkan istrinya, dan tidak berusaha untuk mawas diri. Dalam hatinya ia berkata, "Wah, istriku ini sebentar-sebentar berlaku begini, begitu, begini, begitu, sehingga malanglah nasibku." Tetapi bila orang itu ditanya kembali, "Memanglah istrimu itu begini, begitu, begini, begitu, tetapi bagaimanakah dengan kamu sendiri?" Orang tadi akan terperanjat dan mengaku bahwa dirinya sendiri tidak ditelitinya. Demikian pula dalam hubungan dengan anak dan tetangganya, orang itu tidak memeriksa atau meneliti dirinya sendiri. Ini menunjukkan bahwa orang tidak biasa meneliti diri sendiri. Kedudukan diri sendiri dalam hubungan itu ialah, sebagai pihak yang menyambut atau menanggapi. Bila berhubungan dengan benda-benda, diri sendiri itu menanggapi benda-benda. Sedangkan kalau berhubungan dengan orang lain, gagasan, atau rasa sendiri, ia pun menanggapi orang lain, gagasan atau rasa sendiri itu. Tegasnya, diri sendiri merasa sesuatu dalam hubungan itu.

Bila melihat atau mendengar sesuatu, diri sendiri tentu ikut merasakan sesuatu. Jadi yang merasakan sesuatu, ialah dirinya sendiri dalam menyambut sesuatu yang dilihatnya atau didengarnya. Demikian pula apabila kita berjumpa dengan orang lain, maka dirinya sendirilah yang merasakan sesuatu. Yang merasakan sesuatu inilah diri sendiri dalam menanggapi orang lain. Demikianlah, diri sendiri dalam menanggapi dunia luar. Yang lebih sukar, ialah untuk mengetahui rasa diri sendiri dalam menanggapi gagasan atau rasanya sendiri. Karena gagasan atau rasa hati itu tidak terlihat oleh mata dan tidak tertangkap oleh pancaindera. Maka gagasan atau rasa hati dianggap seolah-olah diri sendiri. Yang seharusnya dilihat, dianggap sebagai yang melihat atau yang berkuasa. Pada umumnya gagasan atau rasa hati sendiri itu dianggap sebagai yang berkuasa, sehingga sukar untuk dikuasai. Agar mudah dipahami, di sini perlu diberi contoh secara terperinci, bagaimana orang menanggapi sesuatu yang dihadapinya. Yang menanggapi sesuatu itu, menanggapinya dengan rasa suka dan benci. Misalnya pada waktu orang hendak membaca buku, ia akan menanggapi lampu terang dengan rasa senang, karena lampu itu memenuhi kebutuhannya. Karena itu, lampu terang dianggap baik. Sebaliknya, pada waktu ia hendak tidur, ia menanggapi lampu terang itu dengan rasa benci. Karena lampu terang menyilaukan matanya dan tidak memenuhi kebutuhannya. Orang yang hendak tidur, tidak membutuhkan lampu yang terang. Demikianlah, orang dapat menanggapi sebuah lampu terang dengan rasa senang atau benci, sesuai dengan kebutuhannya sesaat. Kita menanggapi orang lain juga dengan rasa senang atau benci. Kalau ia seorang sahabat, kita akan menanggapinya dengan rasa senang.

Tetapi kalau ia seorang musuh, kita menanggapinya dengan rasa benci. Bahkan orang yang sama, sering kita tanggapi, dengan senang dan benci, sesuai dengan kebutuhan kita sesaat. Hal inilah yang menyebabkan orang cekcok dengan suami atau istrinya. Terhadap suami atau istri, orang terkadang merasa senang, terkadang benci. Maka suami-istri itu selain menjadi kawan dalam hal-hal tertentu, juga dapat menjadi kawan bercekcok. Lebih sukar lagi untuk mengetahui rasa senang dan benci, yang menanggapi gagasan atau rasa sendiri, karena gagasan atau rasa itu sering menjadi satu dengan senang dan benci. Sehingga sukar memisahkan gagasan dengan rasa suka dan benci. Misalnya gagasan tentang permainan "jaelangkung", yakni sebuah keranjang yang dimasuki sukma orang mati. Rasa senang atau benci yang menanggapi "jaelangkung" itu berubah rupa menjadi percaya atau tidak percaya. Bila perubahan itu tidak disadari, orang tidak mengerti bahwa percaya atau tidak percaya itu berasal dari rasa senang atau bencinya. Demikian pula kesukaran untuk mengetahui rasa senang atau benci yang menanggapi rasanya sendiri. Misalnya dalam menanggapi rasa marahnya sendiri; rasa senang atau benci itu akan berganti rupa, menjadi rasa membela marah atau menahan marah. Jadi mengetahui dirinya sendiri dalam pergaulan, berarti mengetahui rasanya sendiri yang senang atau benci dalam menanggapi sesuatu yang digauli.

Tetapi kalau hal ini tidak disadari, maka kita akan menemui kesukaran berupa perselisihan dalam hubungan kita dengan orang lain. Misalnya kita mendengar gamelan, kemudian mendengar musik. Kalau kita mendengarkan gamelan dengan rasa senang, dan mendengarkan musik dengan rasa benci, dan tanggapan kita ini tidak kita ketahui, berarti kita tidak menikmati lagu gamelan dan musik, melainkan menikmati hafalan dari lagunya. Kenikmatan semacam itu ialah kenikmatan seorang pemain gamelan atau musik, dan bukan kenikmatan seorang seniman yang dapat menyatukan dirinya dengan lagu. Kalau hal ini tidak disadari maka ia akan hanyut dalam rasa senang atau bencinya, sehingga yang senang gamelan berselisih dengan yang senang musik. Bahkan ada kalanya, ia mengajak orang-orang lain untuk berselisih beramai-ramai. Untuk mengetahui rasa senang kita terhadap gamelan, maka kita harus menelitinya sebagai berikut, "Aku ingin menikmati lagu, akan tetapi mengapa aku senang gamelan, sehingga tidak dapat menikmati lagu?" Bila diketahui demikian, rasa senang itu akan lenyap, yang berarti rasa senang itu tidak lagi menghalangi untuk menikmati lagu. Orang akan mengerti bahwa kenikmatan lagu tidak terbatas oleh gamelan atau musik. Demikian pula untuk mengetahui rasa benci kita, kita dapat menelitinya sebagai berikut, "Aku benci akan musik itu, hanyalah karena aku tidak hafal sehingga tidak dapat mengikuti lagunya." Jadi sebenarnya aku tidak hendak menikmati lagu, tetapi hanya ingin mengikuti lagu. Bila diketahui demikian, benci itu sirna, yang berarti rasa benci itu tidak menghalangi keinginan menikmati lagu. Jadi senang atau benci terhadap musik atau gamelan, bergantung pada kegemaran kita. Dalam bergaul dengan orang, tanggapan kita pun berupa rasa senang atau benci. Rasa ini bila tidak diketahui dapat menimbulkan perselisihan. Misalnya kalau kita mendengar kabar ada seorang laki-laki berpoligami. Kalau yang menanggapi kabar itu rasa benci kita, maka kita akan mencelanya, "Laki-laki yang kawin dengan lebih dari satu perempuan, tidak memberi kesempatan kepada orang lain." Tetapi bila rasa senang kita yang menanggapi kabar itu, maka kita membelanya, "Sedang yang memadu itu senang dan yang dimadu pun tidak berkeberatan, mengapa mereka dipersoalkan." Bila hal ini tidak kita pahami, maka kita akan mengajak orang lain untuk membenci atau menyetujui bersama, yang akhirnya akan menjadi kelompok-kelompok pembela dan penentang poligami yang saling bermusuhan. Perkembangan permusuhan semacam ini bisa berkembang menjadi saling tembak-menembak. Bila tanggapan kita yang berupa rasa suka atau benci yang menghalangi itu diketahui, maka kita akan dapat mengetahui atau mengerti rasa orang berpoligami, yang serupa benar dengan rasa kita sendiri.

Cara untuk mengetahuinya sebagai berikut, "Aku ingin mengetahui rasa orang berpoligami, tetapi karena senang atau benci poligami, maka aku tidak dapat mengetahuinya. Sebab dua macam rasa itu menghalangiku." Bila diketahui demikian, rasa senang atau benci akan lenyap. Artinya tidak lagi mengalaminya. Barulah kita mengetahui rasa orang berpoligami, yang serupa benar dengan rasa kita sendiri. Adapun tindakan seseorang, tentu terdorong oleh rasanya. Mencari minuman terdorong oleh rasa haus, ingin tidur terdorong oleh rasa kantuk. Tindakan orang berpoligami ialah terdorong oleh rasanya, yang menghendaki wanita yang bukan istrinya. Setelah rasa orang berpoligami itu diketahui, maka kita dapat meneliti diri kita sendiri dengan pertanyaan berikut, "Apakah aku juga menginginkan wanita yang bukan istriku?" Untuk menjawab pertanyaan di atas, sering kita merasa malu. Sebab keinginan semacam itu kita anggap jelek, karena kita mengira bahwa yang memiliki keinginan semacam itu hanya kita sendiri atau beberapa orang saja. Maka penelitian terhadap diri sendiri dapat dimulai dengan berpikir seperti di bawah ini. Laki-laki walaupun sudah amat tua, bila melihat wanita cantik tentu merasa senang. Rasa senang ini jika dikupas berisikan keinginan. Padahal wanita cantik itu bukan istrinya. Jadi orang tua itu pun menginginkan wanita yang bukan istrinya. Demikian pula wanita, walaupun sudah amat tua, bila melihat laki-laki yang tampan, tentu merasa senang.

Rasa senang ini bila diteliti berisikan keinginan. Padahal laki-laki itu bukan suaminya. Jadi wanita itu pun menginginkan laki-laki yang bukan suaminya. Teranglah bahwa diri sendiri dan semua orang, mempunyai rasa mengingini orang yang bukan suami atau istrinya. Jika keinginan itu tidak sampai terlaksana, hal itu disebabkan hanya karena keadaan, kemiskinan atau kekhawatiran terhadap anak-anaknya, dan sebagainya. Jadi rasa ingin berpoligami bagi semua orang sama. Bila kita mengetahui bahwa rasa orang berpoligami ialah serupa benar dengan rasa kita sendiri, maka kita akan damai dengan orang lain tadi. Rasa damai ini berarti tidak menyetujui atau membenci, tidak memuji atau mencela, yaitu berselisihan. Rasa damai itu sama dengan damai terhadap kenyataan, bahwa matahari terbit di sebelah timur. Orang menanggapi rasanya sendiri, juga dengan rasa senang atau bencinya. Misalnya, bila ia menanggapi amarahnya dengan rasa benci, maka rasa marah itu ditekannya, sehingga ia tidak mengerti makna amarahnya. Menahan amarah itu rasanya sebagai berikut, "Kalau amarahku ini menjadi perbuatan, maka tidak enaklah akibatnya." Menahan marah berarti mendambakan kesabaran. Kalau rasa benci ini tidak diketahui, ia akan menimbulkan perang batin, yaitu perang antara amarahnya dan angan-angannya untuk kesabaran. Apabila yang menanggapi amarahnya sendiri itu rasa senangnya, ia akan membela amarahnya demikian, "Kalau saya tidak marah, maka saya akan senantiasa dihina." Dengan demikian ia tidak akan mengetahui arti amarahnya. Kalau tanggapan rasa senang atau benci itu diketahui, maka orang akan mengetahui arti amarahnya sendiri. Adapun penelitian rasa senang dan benci dapat dilakukan sebagai berikut,"Aku ingin tahu arti amarahku, tetapi karena aku benci atau senang akan amarah itu, maka aku tidak dapat mengetahui arti amarahku." Kalau hal ini disadari, maka rasa senang atau benci itu segera lenyap, yaitu tidak menutupi lagi. Barulah orang mengetahui arti amarahnya. Marah itu berarti membela hal yang dianggap penting untuk diri sendiri.

Jika kepentingannya sendiri diganggu orang, ia lantas marah. Wujud kepentingan manusia itu ada berbagai macam, seperti harta benda, kehormatan, kekuasaan, keluarga, kelompok, kebangsaan, jenis kelamin, ilmu kebatinan, kepandaian, ilmu, dan lain-lain. Setiap orang berbeda-beda dalam menilai kepentingannya sendiri. Salah satu kepentingannya dinilai lebih tinggi dari yang lain. Jadi kepentingan-kepentingan ini ada yang dinilai nomor satu, nomor dua dan seterusnya. Berat ringannya kemarahan tergantung pada tinggi rendahnya penilaian itu. Jika orang diganggu kepentingannya yang nomor satu, ia akan marah sekali. Bila rasa senang atau benci dalam menanggapi rasa sendiri senantiasa diketahui, maka orang akan dapat mempelajari apa yang menjadi kepentingannya melalui pengetahuan tentang diri sendiri (pangawikan pribadi). Bila pengertian diri sendiri ini makin dalam dan luas, orang akan mengerti bahwa dasar landasan kepentingannya itu keliru. Landasan keliru inilah yang menimbulkan rasa tidak enak dalam pergaulan. Apabila kepentingan harta benda itu landasannya keliru, maka ia akan merupakan keserakahan. Padahal kegunaan harta benda hanyalah sebagai alat untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Maka keserakahan berarti mempergunakan harta benda secara salah. Apabila kepentingan kehormatan itu landasannya keliru, maka ia akan menjadi gila hormat. Padahal rasa hormat itu mengandung kenikmatan, baik bila diri sendiri menghormati orang lain, maupun bila orang lain menghormati dirinya. Jadi gila hormat (minta dihormati) berarti mempergunakan kehormatan secara salah. Apabila kepentingan kekuasaan itu landasannya salah, maka ia akan merupakan hasrat menguasai orang lain. Padahal orang berkuasa atau dipercaya itu disebabkan karena ia mengenakkan orang lain. Jadi ingin menguasai orang lain tanpa mengenakkan orang lain, berarti mempergunakan kekuasaan secara salah. Demikianlah seterusnya, untuk mengetahui kepentingan kita yang dipergunakan secara salah. Bila diketahui, maka landasan kepentingan yang salah itu akan menjadi benar. Demikian faedahnya mengetahui rasa senang dan benci kita dalam tanggapan kita terhadap rasa kita sendiri. Bila rasa senang dan bencinya itu diketahui, orang lantas merasa enak dalam pergaulannya dengan benda-benda, dengan orang lain dan dengan rasanya sendiri. Pengetahuan tentang senang dan bencinya sendiri ini, dinamakan pengetahuan diri sendiri (pangawikan pribadi). Jadi pengetahuan diri sendiri ialah syarat untuk membangkitkan rasa enak dalam pergaulan.

Sumber : http://reocities.com/SouthBeach/Tidepool/1029/rh1.htm